Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees): Melantun di bawah Zaitun

through-the-olive-trees

Modalitas Hossein dalam merayu Tahereh bukanlah bermodal setara harta, melainkan determinasi yang wujudnya tak kentara.

Mengakhiri petualangannya di Desa Koker, 350 km di sebelah utara kota Teheran, Kiarostami kembali membawa karyanya ke dalam tingkatan berbeda. Sebagai film penutup dari seri Koker Trilogy, Through the Olive Trees, kian menyahihkan kualitasnya dalam mengembangkan cerita dari ide yang sederhana. Kali ini berlatar kejadian selama proses pengambilan gambar filmnya sebelumnya: Life, and Nothing More, tentang perjuangan aktor pendukungnya dalam meraih hati gadis pujaannya yang juga menjadi aktris pendukung di dalamnya.

Hossein (Hossein Rezai), dipilih untuk menggantikan salah satu aktor pendukung film terbaru seorang sutradara yang sebelumnya juga pernah membuat film di desanya (Mohamed Ali Keshavarz). Namun, tanpa ia ketahui sebelumnya, lawan mainnya dalam adegan di film tersebut adalah Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis yang ia ingin nikahi namun keluarganya tidak kunjung merestui. Kesungguhan dan keteguhan Hossein berulang kali teruji, melalui dialognya dengan sang sutradara berusaha memahami, penolakan dari (keluarga) Tahereh yang berulang kali, hingga jawaban yang muncul setelah bukit dan pepohonan zaitun dilalui.

Continue reading

Advertisements

Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

and-life-goes-on

Bencana selalu hadir tanpa dinyana, menyematkan duka lara di antara serakan puing yang tersisa. Namun di Koker dan sekitarnya, yang ada justru asa yang terasa.

Gempa bumi yang melanda kawasan Iran bagian utara pada Juni 1990, memakan korban jiwa yang cukup besar. Koker, salah satu desa yang masuk kawasan terkena bencana, yang menjadi latar film yang sang sutradara (Farhad Kheradmand) buat beberapa waktu lalu pun turut terkena. Tanpa kepastian informasi, ia dan anaknya, Puya (Buba Bayour), kembali ke kawasan tersebut lima hari setelah gempa terjadi. Dengan harapan, anak kecil yang menjadi tokoh utamanya tak termasuk salah satu korban.

Continue reading

Khane-ye Doust Kodjast? (Where is the Friend’s Home?): Dimana Rumah Reza?

where-is-the-friends-home

Sewaktu kesempatan terakhir yang diberikan kepada kawannya terancam mengganjal, ditambah kejadian yang membuat buku kawannya tertinggal, Ahmad mesti berkejaran dengan waktu mencari rumah kawannya meski berpegal dan bersengal.

Berlatar wilayah pedesaan Koker yang berkontur bukit, Khane-ye Doust Kodjast menjadi karya Kiarostami yang menandai kembalinya ia semenjak vakum selama sedekade. Film yang sekaligus menjadi kerjasama keempatnya dengan Kanoon, ini kembali menyorot anak-anak sebagai karakter utamanya. Lagi, penceritaan yang sederhana mampu disuguhi Kiarostami tanpa menanggalkan pesan moral sekaligus menjejalkan ihwal lain yang dianggap substansial.

Alkisah, Ahmed (Babek Ahmed Poor), tanpa sengaja membawa buku pekerjaan rumah (PR) yang sampulnya sama dengan milik kawannya, Reza Nematzadeh (Ahmed Ahmed Poor). Sementara Reza terancam dikeluarkan dari sekolah jika kembali tidak mengerjakan PR-nya di buku tersebut. Posisi Ahmed kian dilematis ketika ibundanya (Kheda Barech Defai) tidak lantas mengizinkan ia untuk mengembalikan buku tersebut ke Reza. Terlebih, tempat tinggal Ahmed dan Reza yang berjauhan karena berbeda desa, menjadi alasan tambahan bagi sang ibunda.

Continue reading

2046: Waktu itu Rancu

2046_3

Everyone who goes to 2046 has the same intention. They want to recapture lost memories. Because in 2046, nothing ever changes. But nobody really knows if that’s true or not. Because nobody has ever comeback”.

Melanjutkan dua film sebelumnya, 2046 menjadi penyimpul dan penegas dari trilogi yang berpusat pada karakter Chow Mo-Wan (Tony Leung). Jika tema yang diusung di prekuel awal, Days of Being Wild, berpusat pada sekumpulan individu yang tak kesampaian dalam mengejar kasih, serta pada sekuel pertama, In the Mood for Love, tentang bagaimana prinsip didahulukan ketimbang hasrat, 2046 menghadirkan premis yang menjadi benang merah dari seluruh kisah tersebut. Bahwasanya keinginan untuk berasyik masyuk tidak melulu selaras dengan kapan dan siapa hal itu diinginkan.

Berlatar tahun 1966, Chow yang berupaya melupakan Su Li Zhen (Maggie Cheung) dengan mengasingkan diri ke Singapura, justru bertemu dan mulai menjalin kedekatan dengan wanita ahli judi yang bernama sama. Tanpa sumber pemasukan yang stabil, ia memutuskan untuk kembali ke Hong Kong. Ajakan yang ia tawarkan kepada Su Li Zhen (Gong Li) tak digubris dengan penolakan pasif. Penolakan yang membuatnya terpaksa kembali ke Hong Kong tanpanya. Kesendirian yang kembali hinggap serta interaksinya dengan sejumlah wanita seakan tak mampu menjadi obat mujarab.

Pertemuan Chow dengan Lulu/Mimi (Carina Lau), penyanyi klub malam yang ia bopong menuju kamarnya di Hotel Oriental mengingatkannya pada momen di masa lalu. Momen di mana kamar yang ditempati Lulu, 2046, adalah nomor kamar hotel yang sama dengan yang pernah ia jadikan tempat menyepi untuk menulis – sekaligus pertemuan rahasianya – dengan Su Li Zhen. Memutuskan tinggal di kamar tersebut, Chow lantas menjalin kedekatan dengan Wang Jing-Wen (Faye Wong), – anak pemilik hotel  yang hubungannya dengan lelaki berkebangsaan Jepang (Takuya Kimura) ditentang oleh ayahnya (Wang Sum) – dan Bai Ling, yang secara elok dan meyakinkan diperankan oleh Zhang Ziyi.

Continue reading

In the Mood for Love: Kisah Romantis yang Platonis

vlcsnap-error030

Nasib kerap menjadi rambu dalam perjalanan kehidupan. Bukan hal yang mustahil bagi insan yang melaju di jalurnya masing-masing untuk saling berpapasan. Sekelebat. Tidak melenggang dalam kelanggengan. Untuk kemudian kembali menderu hingga membiru.

Asimtot. Kata itulah yang tepat mendeskripsikan kisah platonis di dalam In the Mood for Love. Karakter utamanya, Chow Mo-Wan (Tony Leung), adalah seorang penulis yang bekerja di perusahaan surat kabar harian di Hong Kong. Berlatar paruh awal dekade 1960-an, saat itu adalah hal yang lumrah untuk menyewa kamar di apartemen yang dimiliki pasangan yang sudah senior. Ia kemudian berjumpa dan bertetangga dengan Mrs. Chan (Maggie Cheung), seorang sekretaris di perusahaan pelayaran yang juga menyewa kamar bersama suaminya. Nasib mempertemukan keduanya, kesamaan nasib kian mendekatkan keduanya.

Continue reading

Days of Being Wild: Serangkai Kisah Kasih Tak Sampai

vlcsnap-error655.png

Dalam upaya menuju sesuatu yang dikejar, terkadang kita acuh akan apa yang terjadi di sekitar. Tenggelam dalam fokus hingga ego menjadi sentral dan menganggap faktor lain seolah residual.

Dalam Days of Being Wild, keterpusatan ego berada pada karakter Yuddy (Leslie Chung), seorang playboy pasif agresif yang karakteristiknya berada di garis tipis antara angkuh dan acuh. Interaksinya dengan dua wanita sebaya, So Li Zhen (Maggie Cheung), seorang penjual tiket di stadion sepakbola dan Mimi (Carina Lau), seorang penari di klub malam, terjadi pada momen yang tidak tepat. Setidaknya bagi Yuddy. Keduanya hanyalah pemalingan atas keterusikan oleh rasa penasaran akan kehadiran sosok yang berasal dari kabar yang disampaikan oleh ibu – yang atas konsekuensi kabar itu hanyalah ibu – angkatnya (Rebecca Pan).

Continue reading