La La Land: Film Klasik untuk Masa Depan

la-la-land

Someone in the crowd will be the one you need to know. Someone who can lift you off the ground. Someone in the crowd will take you where you want to go. Someone in the crowd will make you. Someone in the crowd will take you. Finally off the ground, with only someone ready to be found.

Dalam kamus bahasa, La La Land berarti kota Los Angeles, termasuk Hollywood, beserta gaya hidup orang-orang yang tinggal di dalamnya. La La Land juga merupakan permainan kata yang berarti tempat yang penuh fantasi dan mimpi. Damien Chazelle, sutradara yang baru berusia 31 tahun, mewujudkan impinya untuk membuat film tentang para pemimpi di kota penuh mimpi.

Para pemimpi itu diwakili oleh Mia, seorang aktris muda yang telah enam tahun meramaikan bursa seni peran namun tak kunjung mendapat panggilan, yang dengan kualitas eksepsional diperankan oleh Emma Stone. Ia tanpa sengaja berjumpa dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pemain piano aliran jazz yang baru saja kehilangan bar musik miliknya. Keduanya bertemu dalam momen fana yang penuh pana, mengawali interaksi romansa antara keduanya – serta mimpi keduanya. Nuansa yang penuh warna, dipadu dengan musik yang mengalun dengan mesra dan sesekali penuh rasa gegap gempita, selalu menemani di setiap adegan seakan menjadi karakter ketiga. Karakter ketiga yang ketimbang menjadi perantara, malah menjadi penyekat maya antara keduanya.

Continue reading

2046: Waktu itu Rancu

2046_3

Everyone who goes to 2046 has the same intention. They want to recapture lost memories. Because in 2046, nothing ever changes. But nobody really knows if that’s true or not. Because nobody has ever comeback”.

Melanjutkan dua film sebelumnya, 2046 menjadi penyimpul dan penegas dari trilogi yang berpusat pada karakter Chow Mo-Wan (Tony Leung). Jika tema yang diusung di prekuel awal, Days of Being Wild, berpusat pada sekumpulan individu yang tak kesampaian dalam mengejar kasih, serta pada sekuel pertama, In the Mood for Love, tentang bagaimana prinsip didahulukan ketimbang hasrat, 2046 menghadirkan premis yang menjadi benang merah dari seluruh kisah tersebut. Bahwasanya keinginan untuk berasyik masyuk tidak melulu selaras dengan kapan dan siapa hal itu diinginkan.

Berlatar tahun 1966, Chow yang berupaya melupakan Su Li Zhen (Maggie Cheung) dengan mengasingkan diri ke Singapura, justru bertemu dan mulai menjalin kedekatan dengan wanita ahli judi yang bernama sama. Tanpa sumber pemasukan yang stabil, ia memutuskan untuk kembali ke Hong Kong. Ajakan yang ia tawarkan kepada Su Li Zhen (Gong Li) tak digubris dengan penolakan pasif. Penolakan yang membuatnya terpaksa kembali ke Hong Kong tanpanya. Kesendirian yang kembali hinggap serta interaksinya dengan sejumlah wanita seakan tak mampu menjadi obat mujarab.

Pertemuan Chow dengan Lulu/Mimi (Carina Lau), penyanyi klub malam yang ia bopong menuju kamarnya di Hotel Oriental mengingatkannya pada momen di masa lalu. Momen di mana kamar yang ditempati Lulu, 2046, adalah nomor kamar hotel yang sama dengan yang pernah ia jadikan tempat menyepi untuk menulis – sekaligus pertemuan rahasianya – dengan Su Li Zhen. Memutuskan tinggal di kamar tersebut, Chow lantas menjalin kedekatan dengan Wang Jing-Wen (Faye Wong), – anak pemilik hotel  yang hubungannya dengan lelaki berkebangsaan Jepang (Takuya Kimura) ditentang oleh ayahnya (Wang Sum) – dan Bai Ling, yang secara elok dan meyakinkan diperankan oleh Zhang Ziyi.

Continue reading

In the Mood for Love: Kisah Romantis yang Platonis

vlcsnap-error030

Nasib kerap menjadi rambu dalam perjalanan kehidupan. Bukan hal yang mustahil bagi insan yang melaju di jalurnya masing-masing untuk saling berpapasan. Sekelebat. Tidak melenggang dalam kelanggengan. Untuk kemudian kembali menderu hingga membiru.

Asimtot. Kata itulah yang tepat mendeskripsikan kisah platonis di dalam In the Mood for Love. Karakter utamanya, Chow Mo-Wan (Tony Leung), adalah seorang penulis yang bekerja di perusahaan surat kabar harian di Hong Kong. Berlatar paruh awal dekade 1960-an, saat itu adalah hal yang lumrah untuk menyewa kamar di apartemen yang dimiliki pasangan yang sudah senior. Ia kemudian berjumpa dan bertetangga dengan Mrs. Chan (Maggie Cheung), seorang sekretaris di perusahaan pelayaran yang juga menyewa kamar bersama suaminya. Nasib mempertemukan keduanya, kesamaan nasib kian mendekatkan keduanya.

Continue reading