Ta’m e Guilass (Taste of Cherry): Ironi di Bawah Pohon Ceri

tam-e-guilass

If you look at the four seasons, each season brings fruit. In summer, there’s fruit, in autumn, too. Winter brings different fruit and spring, too. No mother can fill her fridge with such a variety of fruit for her children. No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?

Tidak cukup sekali, tapi butuh dua, tiga kali bagi saya untuk menyaksikan film ini sebelum memahami premis apa yang hendak dikedepankan di dalamnya. Alurnya yang relatif lambat dalam menguak motif tokoh utama menjadi alasan, meski gamblang apa yang ia tuju. Melalui serangkaian dialog – bahkan dialektika – dengan sekelumit pihak yang melambangkan pesan yang tidak terlampau sumir, Kiarostami menghidupkan puisi lirih sekaligus kritik geopolitik di kawasannya dengan pendekatan yang satire. Satire yang dalam narasinya tidak hanya bertaji, tapi juga penuh dengan ironi.

Badii (Homayoun Ershadi), pria paruh baya yang mengelilingi kawasan gunung tandus, mencari orang-orang yang – di pandangannya – membutuhkan uang. Pendekatannya yang terkesan mencurigakan dan kaku, membuat beberapa yang ia dekati menolak preposisinya. Kehendaknya cuma satu: mencari satu orang yang menyerok sekop untuk mengubur jasadnya yang akan mati. Kematian yang akan ia jemput sendiri.

Continue reading

Advertisements