Chungking Express: Jenakanya Rasa Nelangsa

Chungking Express GIF_3
He Qiwu (Polisi 223) dalam tangkapan efek step printing a la Wong dan Doyle

Saat menyaksikan sepuluh menit pertama Chungking Express, saya berulang kali terpingkal-pingkal dibuatnya. Jika mengetahui bahwa pada dasarnya film ini bertemakan kegagalan romansa dan bagaimana menghadapinya, tentu asumsi awal adalah film yang didominasi dengan suasana nelangsa. Tapi Wong Kar-Wai justru menyampaikannya dengan gaya penyampaian yang jenaka. Dua hal yang jarang disandingkan dengan eksekusi yang tanpa cela.

Mengusung struktur narasi komposit, Chungking Express terdiri atas dua kisah yang berdiri sendiri. Pada kisah pertama, He Qiwu (Takeshi Kaneshiro), seorang Polisi bernomor kode 223, belum lama ini ditinggalkan kekasihnya. Hal serupa yang dirasakan Polisi 633 (Tony Leung) di kisah selanjutnya. Diiringi cara-cara unik dalam menampik kenyataan yang dialami, keduanya mengalami perubahan setelah masing-masing wanita hadir di kehidupan mereka. Perpapasan Polisi 223 dengan wanita berwig pirang (Brigitte Lin), yang ternyata seorang penyelundup narkotika, membawanya pada hal yang tidak pernah ia lakukan dan rasakan selama berhubungan dengan mantan kekasihnya. Tak berbeda halnya dengan Polisi 633 yang tak sadar apabila apartemennya kerap disusupi wanita penjaga kios makanan yang sering ia jumpai, Faye (Faye Wong).

Continue reading

2046: Waktu itu Rancu

2046_3

Everyone who goes to 2046 has the same intention. They want to recapture lost memories. Because in 2046, nothing ever changes. But nobody really knows if that’s true or not. Because nobody has ever comeback”.

Melanjutkan dua film sebelumnya, 2046 menjadi penyimpul dan penegas dari trilogi yang berpusat pada karakter Chow Mo-Wan (Tony Leung). Jika tema yang diusung di prekuel awal, Days of Being Wild, berpusat pada sekumpulan individu yang tak kesampaian dalam mengejar kasih, serta pada sekuel pertama, In the Mood for Love, tentang bagaimana prinsip didahulukan ketimbang hasrat, 2046 menghadirkan premis yang menjadi benang merah dari seluruh kisah tersebut. Bahwasanya keinginan untuk berasyik masyuk tidak melulu selaras dengan kapan dan siapa hal itu diinginkan.

Berlatar tahun 1966, Chow yang berupaya melupakan Su Li Zhen (Maggie Cheung) dengan mengasingkan diri ke Singapura, justru bertemu dan mulai menjalin kedekatan dengan wanita ahli judi yang bernama sama. Tanpa sumber pemasukan yang stabil, ia memutuskan untuk kembali ke Hong Kong. Ajakan yang ia tawarkan kepada Su Li Zhen (Gong Li) tak digubris dengan penolakan pasif. Penolakan yang membuatnya terpaksa kembali ke Hong Kong tanpanya. Kesendirian yang kembali hinggap serta interaksinya dengan sejumlah wanita seakan tak mampu menjadi obat mujarab.

Pertemuan Chow dengan Lulu/Mimi (Carina Lau), penyanyi klub malam yang ia bopong menuju kamarnya di Hotel Oriental mengingatkannya pada momen di masa lalu. Momen di mana kamar yang ditempati Lulu, 2046, adalah nomor kamar hotel yang sama dengan yang pernah ia jadikan tempat menyepi untuk menulis – sekaligus pertemuan rahasianya – dengan Su Li Zhen. Memutuskan tinggal di kamar tersebut, Chow lantas menjalin kedekatan dengan Wang Jing-Wen (Faye Wong), – anak pemilik hotel  yang hubungannya dengan lelaki berkebangsaan Jepang (Takuya Kimura) ditentang oleh ayahnya (Wang Sum) – dan Bai Ling, yang secara elok dan meyakinkan diperankan oleh Zhang Ziyi.

Continue reading

In the Mood for Love: Kisah Romantis yang Platonis

vlcsnap-error030

Nasib kerap menjadi rambu dalam perjalanan kehidupan. Bukan hal yang mustahil bagi insan yang melaju di jalurnya masing-masing untuk saling berpapasan. Sekelebat. Tidak melenggang dalam kelanggengan. Untuk kemudian kembali menderu hingga membiru.

Asimtot. Kata itulah yang tepat mendeskripsikan kisah platonis di dalam In the Mood for Love. Karakter utamanya, Chow Mo-Wan (Tony Leung), adalah seorang penulis yang bekerja di perusahaan surat kabar harian di Hong Kong. Berlatar paruh awal dekade 1960-an, saat itu adalah hal yang lumrah untuk menyewa kamar di apartemen yang dimiliki pasangan yang sudah senior. Ia kemudian berjumpa dan bertetangga dengan Mrs. Chan (Maggie Cheung), seorang sekretaris di perusahaan pelayaran yang juga menyewa kamar bersama suaminya. Nasib mempertemukan keduanya, kesamaan nasib kian mendekatkan keduanya.

Continue reading

Days of Being Wild: Serangkai Kisah Kasih Tak Sampai

vlcsnap-error655.png

Dalam upaya menuju sesuatu yang dikejar, terkadang kita acuh akan apa yang terjadi di sekitar. Tenggelam dalam fokus hingga ego menjadi sentral dan menganggap faktor lain seolah residual.

Dalam Days of Being Wild, keterpusatan ego berada pada karakter Yuddy (Leslie Chung), seorang playboy pasif agresif yang karakteristiknya berada di garis tipis antara angkuh dan acuh. Interaksinya dengan dua wanita sebaya, So Li Zhen (Maggie Cheung), seorang penjual tiket di stadion sepakbola dan Mimi (Carina Lau), seorang penari di klub malam, terjadi pada momen yang tidak tepat. Setidaknya bagi Yuddy. Keduanya hanyalah pemalingan atas keterusikan oleh rasa penasaran akan kehadiran sosok yang berasal dari kabar yang disampaikan oleh ibu – yang atas konsekuensi kabar itu hanyalah ibu – angkatnya (Rebecca Pan).

Continue reading