Elle: Daif namun Manipulatif

Elle.gif

Shame isn’t a strong enough emotion to stop us from doing anything at all

— Michèle Leblanc

Michèle Leblanc (Isabelle Huppert), wanita paruh baya dengan kelas sosial menengah ke atas yang tinggal seorang diri, mengalami kejadian tidak mengenakkan. Ia secara tiba-tiba diserang dan diperkosa oleh seorang lelaki tak dikenal yang masuk ke rumahnya. Masa lalu buram saat berurusan dengan polisi, membuatnya enggan melaporkannya. Tanpa tedeng aling, ia mulai mencari satu per satu lelaki yang sekiranya dapat jadi tersangka utama.

Continue reading

Advertisements

The Handmaiden: Kepingan Intrik dalam Mozaik

the-handmaiden

Selaras dengan reputasi yang telah dibangunnya dalam Vengeance Trilogy, Park Chan-wook kembali hadir dengan film beraliran psychological thriller dalam sematan berahi. Dalam The Handmaiden, ia membalut intrik, menyandingkannya dengan desain produksi yang apik, dan dengan narasi multiperspektif yang unik, ia kulik. Tentu saja, dengan ciri khasnya sebagai sutradara, selalu ada unsur yang oleh karakter utama tidak mampu ditampik.

Di era kependudukan Jepang di Korea Selatan, seorang penipu ulung yang memiliki nama palsu Fujiwara (Ha Jung-woo), merekrut seorang pencopet yang tinggal di rumah penadah sekaligus toko perak, Sook-Hee (Kim Taer-ri). Ia hendak dijadikan pelayan baru yang melayani kebutuhan pribadi Nona Hideko (Kim Min-hee), seorang ahli waris perempuan ‘polos’ yang dipingit oleh pamannya yang cabul, Kouzuki (Jo Jin-woong). Rencana awalnya, Fujiwara akan mempersunting Hideko dan dengan bantuan Sook-Hee, melibas harta warisannya. Tanpa seorang pun duga, konspirasi yang tertata dengan rapi, justru terintervensi urusan hati.

Continue reading

Sing Street: Menampik Pelik melalui Musik

sing-street

“Going up. She Lights me up. She breaks me up. She lifts me up.”

Musik memang banyak menjadi inspirasi bagi banyak pihak, baik yang menjadi fanatik atau terpantik untuk membuat karya yang apik. Untuk John Carney, sepertinya ia termasuk dalam golongan kedua. Meneruskan resep handalnya dalam menciptakan film yang menyertakan musik ciptaannya, ia membangkitkan ingatannya sendiri dalam bermusik dengan unsur nostalgia. Adapula sedikit tambahan komponen yang membuat film ini terasa berbeda dari film-filmnya sebelumnya.

Nostalgia yang berlatar di Dublin pada tahun 1985, di mana kondisi perekonomian yang buruk memberikan imbas bagi masyarakatnya. Conor (Ferdia Walsh-Peelo), yang hidup di keluarga kelas menengah, juga memperoleh imbasnya yang mengharuskannya berpindah dari sekolah privat ke sekolah katolik. Bak anugerah tak dinyana, perpindahan ini justru mempertemukannya dengan sosok Raphina (Lucy Boynton), gadis muda yang memantik alasannya untuk bersegera membentuk band di SMA-nya.

Bernama Sing Street – plesetan dari nama sekolah mereka, Synge Street – Conor mengawali dengan menggaet Darren Mulvey (Ben Carolan) sebagai manajer. Dari situ, ia kemudian merekrut Eamon (Mark McKenna), yang bertalenta dan mahir menggunakan pelbagai macam alat musik. Formasinya kemudian disempurnakan dengan kehadiran N’gig (Percy Chamburuka) sebagai keyboardist, Garry (Karl Rice) sebagai bassist, dan Larry (Conor Hamilton) sebagai drummer. Keenamnya mulai mengelaborasi musik dengan meniru dan membawakan musik dari band ternama, hingga kemudian bertransformasi dalam setiap aransemen lagu yang berbeda.

Continue reading

Nocturnal Animals: Menghalusi Alusi

Nocturnal Animals.gif

When you love someone, you have to be careful with it. You might never get it again.”                     –  Edward Sheffield

Kendati sempat dibuka dengan adegan yang tidak lazim maupun relevan, Nocturnal Animals menyajikan narasi penceritaan yang lumayan menjanjikan. Hati-hati memperlakukan hati, barangkali itu yang hendak Tom Ford, selaku sutradara, hendak kemukakan sebagai inti. Salah-salah, olehnya kita bisa dibuat mati.

Itu yang disadari oleh Susan (Amy Adams) saat menerima paket berisi naskah final novel buatan mantan suaminya hampir dua puluh tahun yang lalu, Edward Sheffield (Jake Gyllenhaal). Halaman demi halaman tulisan yang ia telan dalam tiap malam yang ia lalui sebagai pengidap insomnia akut, ia anggap sebagai sebuah ancaman simbolis atau skenario pembalasan dendam. Dendam akan masa lalu keduanya, saat mengakhiri hubungan.dengan cara yang tidak mengenakkan.

Continue reading

Loving: Menyelaras Cinta Antar-Ras

loving

Mildred: “I’m pregnant.”

Richard: “Good. That’s real good.”

Hingar bingar persoalan diskriminasi antar-ras yang terjadi di Amerika Serikat (AS), merupakan diskursus kontemporer yang tak kunjung selesai. Belakangan, sentimen ini kian mencuat melalui maraknya tema perfilman negeri sana yang mengusung emansipasi ras Afrika-Amerika. Memanfaatkan momentum serupa, Jeff Nichols mengambil keuntungan dari isu yang mencuat ini dengan mengambil irisan yang mempersatukan, bukan saling memencilkan: cinta.

Richard Loving (Joel Edgerton) dan Mildred ‘Bean’ Jeter (Ruth Negga) adalah dua sejoli berbeda ras yang tinggal di Caroline County, negara bagian Virginia. Cintanya yang berbuah kehamilan Mildred, menjadi alasan keduanya untuk melangsungkan pernikahan. Tinggal di negara bagian yang belum melandasi konstitusi pernikahan berlatar belakang perbedaan warna kulit, di negara bagian Washington ikrar keduanya digamit. Meski keduanya memahami bahwa pilihan itu akan menimbulkan konsekuensi yang rumit.

Continue reading

La La Land: Film Klasik untuk Masa Depan

la-la-land

Someone in the crowd will be the one you need to know. Someone who can lift you off the ground. Someone in the crowd will take you where you want to go. Someone in the crowd will make you. Someone in the crowd will take you. Finally off the ground, with only someone ready to be found.

Dalam kamus bahasa, La La Land berarti kota Los Angeles, termasuk Hollywood, beserta gaya hidup orang-orang yang tinggal di dalamnya. La La Land juga merupakan permainan kata yang berarti tempat yang penuh fantasi dan mimpi. Damien Chazelle, sutradara yang baru berusia 31 tahun, mewujudkan impinya untuk membuat film tentang para pemimpi di kota penuh mimpi.

Para pemimpi itu diwakili oleh Mia, seorang aktris muda yang telah enam tahun meramaikan bursa seni peran namun tak kunjung mendapat panggilan, yang dengan kualitas eksepsional diperankan oleh Emma Stone. Ia tanpa sengaja berjumpa dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pemain piano aliran jazz yang baru saja kehilangan bar musik miliknya. Keduanya bertemu dalam momen fana yang penuh pana, mengawali interaksi romansa antara keduanya – serta mimpi keduanya. Nuansa yang penuh warna, dipadu dengan musik yang mengalun dengan mesra dan sesekali penuh rasa gegap gempita, selalu menemani di setiap adegan seakan menjadi karakter ketiga. Karakter ketiga yang ketimbang menjadi perantara, malah menjadi penyekat maya antara keduanya.

Continue reading

Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees): Melantun di bawah Zaitun

through-the-olive-trees

Modalitas Hossein dalam merayu Tahereh bukanlah bermodal setara harta, melainkan determinasi yang wujudnya tak kentara.

Mengakhiri petualangannya di Desa Koker, 350 km di sebelah utara kota Teheran, Kiarostami kembali membawa karyanya ke dalam tingkatan berbeda. Sebagai film penutup dari seri Koker Trilogy, Through the Olive Trees, kian menyahihkan kualitasnya dalam mengembangkan cerita dari ide yang sederhana. Kali ini berlatar kejadian selama proses pengambilan gambar filmnya sebelumnya: Life, and Nothing More, tentang perjuangan aktor pendukungnya dalam meraih hati gadis pujaannya yang juga menjadi aktris pendukung di dalamnya.

Hossein (Hossein Rezai), dipilih untuk menggantikan salah satu aktor pendukung film terbaru seorang sutradara yang sebelumnya juga pernah membuat film di desanya (Mohamed Ali Keshavarz). Namun, tanpa ia ketahui sebelumnya, lawan mainnya dalam adegan di film tersebut adalah Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis yang ia ingin nikahi namun keluarganya tidak kunjung merestui. Kesungguhan dan keteguhan Hossein berulang kali teruji, melalui dialognya dengan sang sutradara berusaha memahami, penolakan dari (keluarga) Tahereh yang berulang kali, hingga jawaban yang muncul setelah bukit dan pepohonan zaitun dilalui.

Continue reading

Swiss Army Man: Menemukan Hati dari yang Telah Mati

swiss-army-man-1

Swiss Army Man adalah salah satu film tahun ini yang kemunculannya saya nantikan. Premis yang menarik dan menjanjikan kejenakaan menjadi satu dari sekian alasan. Premis yang diusung oleh film ini tentu akan langsung mengingatkan kita akan Cast Away – terutama versi yang dibintangi Tom Hanks. Film ini adalah jawaban akan pertanyaan tentang bagaimana apabila film tersebut dirotasi menjadi komedi.

Film ini dibuka dengan penggambaran keputusasaan karakter Hank Thompson (Paul Dano) yang terdampar di suatu pulau karang terpencil di kawasan Pasifik. Ia yang telah dipenghujung asa, dengan tali yang telah terkalung, mendadak urung saat menjumpai sesosok jasad yang terapung (Daniel Radcliffe). Tentu sesuai yang dinyana, jasad itu adalah si sosok manusia – tak bernyawa yang – serbaguna. Tapi yang patut ditanya, bagaimana kedua karakter kemudian bisa bertukar kata?

Continue reading

Chungking Express: Jenakanya Rasa Nelangsa

Chungking Express GIF_3
He Qiwu (Polisi 223) dalam tangkapan efek step printing a la Wong dan Doyle

Saat menyaksikan sepuluh menit pertama Chungking Express, saya berulang kali terpingkal-pingkal dibuatnya. Jika mengetahui bahwa pada dasarnya film ini bertemakan kegagalan romansa dan bagaimana menghadapinya, tentu asumsi awal adalah film yang didominasi dengan suasana nelangsa. Tapi Wong Kar-Wai justru menyampaikannya dengan gaya penyampaian yang jenaka. Dua hal yang jarang disandingkan dengan eksekusi yang tanpa cela.

Mengusung struktur narasi komposit, Chungking Express terdiri atas dua kisah yang berdiri sendiri. Pada kisah pertama, He Qiwu (Takeshi Kaneshiro), seorang Polisi bernomor kode 223, belum lama ini ditinggalkan kekasihnya. Hal serupa yang dirasakan Polisi 633 (Tony Leung) di kisah selanjutnya. Diiringi cara-cara unik dalam menampik kenyataan yang dialami, keduanya mengalami perubahan setelah masing-masing wanita hadir di kehidupan mereka. Perpapasan Polisi 223 dengan wanita berwig pirang (Brigitte Lin), yang ternyata seorang penyelundup narkotika, membawanya pada hal yang tidak pernah ia lakukan dan rasakan selama berhubungan dengan mantan kekasihnya. Tak berbeda halnya dengan Polisi 633 yang tak sadar apabila apartemennya kerap disusupi wanita penjaga kios makanan yang sering ia jumpai, Faye (Faye Wong).

Continue reading

2046: Waktu itu Rancu

2046_3

Everyone who goes to 2046 has the same intention. They want to recapture lost memories. Because in 2046, nothing ever changes. But nobody really knows if that’s true or not. Because nobody has ever comeback”.

Melanjutkan dua film sebelumnya, 2046 menjadi penyimpul dan penegas dari trilogi yang berpusat pada karakter Chow Mo-Wan (Tony Leung). Jika tema yang diusung di prekuel awal, Days of Being Wild, berpusat pada sekumpulan individu yang tak kesampaian dalam mengejar kasih, serta pada sekuel pertama, In the Mood for Love, tentang bagaimana prinsip didahulukan ketimbang hasrat, 2046 menghadirkan premis yang menjadi benang merah dari seluruh kisah tersebut. Bahwasanya keinginan untuk berasyik masyuk tidak melulu selaras dengan kapan dan siapa hal itu diinginkan.

Berlatar tahun 1966, Chow yang berupaya melupakan Su Li Zhen (Maggie Cheung) dengan mengasingkan diri ke Singapura, justru bertemu dan mulai menjalin kedekatan dengan wanita ahli judi yang bernama sama. Tanpa sumber pemasukan yang stabil, ia memutuskan untuk kembali ke Hong Kong. Ajakan yang ia tawarkan kepada Su Li Zhen (Gong Li) tak digubris dengan penolakan pasif. Penolakan yang membuatnya terpaksa kembali ke Hong Kong tanpanya. Kesendirian yang kembali hinggap serta interaksinya dengan sejumlah wanita seakan tak mampu menjadi obat mujarab.

Pertemuan Chow dengan Lulu/Mimi (Carina Lau), penyanyi klub malam yang ia bopong menuju kamarnya di Hotel Oriental mengingatkannya pada momen di masa lalu. Momen di mana kamar yang ditempati Lulu, 2046, adalah nomor kamar hotel yang sama dengan yang pernah ia jadikan tempat menyepi untuk menulis – sekaligus pertemuan rahasianya – dengan Su Li Zhen. Memutuskan tinggal di kamar tersebut, Chow lantas menjalin kedekatan dengan Wang Jing-Wen (Faye Wong), – anak pemilik hotel  yang hubungannya dengan lelaki berkebangsaan Jepang (Takuya Kimura) ditentang oleh ayahnya (Wang Sum) – dan Bai Ling, yang secara elok dan meyakinkan diperankan oleh Zhang Ziyi.

Continue reading