La La Land: Film Klasik untuk Masa Depan

la-la-land

Someone in the crowd will be the one you need to know. Someone who can lift you off the ground. Someone in the crowd will take you where you want to go. Someone in the crowd will make you. Someone in the crowd will take you. Finally off the ground, with only someone ready to be found.

Dalam kamus bahasa, La La Land berarti kota Los Angeles, termasuk Hollywood, beserta gaya hidup orang-orang yang tinggal di dalamnya. La La Land juga merupakan permainan kata yang berarti tempat yang penuh fantasi dan mimpi. Damien Chazelle, sutradara yang baru berusia 31 tahun, mewujudkan impinya untuk membuat film tentang para pemimpi di kota penuh mimpi.

Para pemimpi itu diwakili oleh Mia, seorang aktris muda yang telah enam tahun meramaikan bursa seni peran namun tak kunjung mendapat panggilan, yang dengan kualitas eksepsional diperankan oleh Emma Stone. Ia tanpa sengaja berjumpa dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pemain piano aliran jazz yang baru saja kehilangan bar musik miliknya. Keduanya bertemu dalam momen fana yang penuh pana, mengawali interaksi romansa antara keduanya – serta mimpi keduanya. Nuansa yang penuh warna, dipadu dengan musik yang mengalun dengan mesra dan sesekali penuh rasa gegap gempita, selalu menemani di setiap adegan seakan menjadi karakter ketiga. Karakter ketiga yang ketimbang menjadi perantara, malah menjadi penyekat maya antara keduanya.

Continue reading

Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees): Melantun di bawah Zaitun

through-the-olive-trees

Modalitas Hossein dalam merayu Tahereh bukanlah bermodal setara harta, melainkan determinasi yang wujudnya tak kentara.

Mengakhiri petualangannya di Desa Koker, 350 km di sebelah utara kota Teheran, Kiarostami kembali membawa karyanya ke dalam tingkatan berbeda. Sebagai film penutup dari seri Koker Trilogy, Through the Olive Trees, kian menyahihkan kualitasnya dalam mengembangkan cerita dari ide yang sederhana. Kali ini berlatar kejadian selama proses pengambilan gambar filmnya sebelumnya: Life, and Nothing More, tentang perjuangan aktor pendukungnya dalam meraih hati gadis pujaannya yang juga menjadi aktris pendukung di dalamnya.

Hossein (Hossein Rezai), dipilih untuk menggantikan salah satu aktor pendukung film terbaru seorang sutradara yang sebelumnya juga pernah membuat film di desanya (Mohamed Ali Keshavarz). Namun, tanpa ia ketahui sebelumnya, lawan mainnya dalam adegan di film tersebut adalah Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis yang ia ingin nikahi namun keluarganya tidak kunjung merestui. Kesungguhan dan keteguhan Hossein berulang kali teruji, melalui dialognya dengan sang sutradara berusaha memahami, penolakan dari (keluarga) Tahereh yang berulang kali, hingga jawaban yang muncul setelah bukit dan pepohonan zaitun dilalui.

Continue reading

Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

and-life-goes-on

Bencana selalu hadir tanpa dinyana, menyematkan duka lara di antara serakan puing yang tersisa. Namun di Koker dan sekitarnya, yang ada justru asa yang terasa.

Gempa bumi yang melanda kawasan Iran bagian utara pada Juni 1990, memakan korban jiwa yang cukup besar. Koker, salah satu desa yang masuk kawasan terkena bencana, yang menjadi latar film yang sang sutradara (Farhad Kheradmand) buat beberapa waktu lalu pun turut terkena. Tanpa kepastian informasi, ia dan anaknya, Puya (Buba Bayour), kembali ke kawasan tersebut lima hari setelah gempa terjadi. Dengan harapan, anak kecil yang menjadi tokoh utamanya tak termasuk salah satu korban.

Continue reading

Nema-ye Nazdik (Close-Up): Peran Menawan Hossain Sabzian

closeup

“When spite comes along, art dons a veil”

Seni akan bersembunyi seiring hadirnya dengki, ucap Hossain Sabzian saat membela diri. Kejadian yang mustahil dapat diulangi, dan Kiarostami menemukannya dengan jeli.

Hossain Sabzian adalah seorang duda beranak dua yang bekerja di pabrik percetakan dengan pendapatan pas-pasan. Bahkan ia bercerai karena itu yang menjadi alasan. Lebih dari itu, ia adalah seorang pencinta sinema. Baginya, film adalah representasi bagi perjuangan masyarakat yang satu strata sosial dengannya. Saat membaca buku naskah film favoritnya, The Cyclist, ia bertemu dengan Nyonya Ahankhah, yang mengiranya sebagai Mohsein Makhmalbaf, sutradara buku yang ia baca. Menganggap itu sebagai kesempatan untuk bermain peran, ia lantas lanjut berpura-pura.

Continue reading