La La Land: Film Klasik untuk Masa Depan

la-la-land

Someone in the crowd will be the one you need to know. Someone who can lift you off the ground. Someone in the crowd will take you where you want to go. Someone in the crowd will make you. Someone in the crowd will take you. Finally off the ground, with only someone ready to be found.

Dalam kamus bahasa, La La Land berarti kota Los Angeles, termasuk Hollywood, beserta gaya hidup orang-orang yang tinggal di dalamnya. La La Land juga merupakan permainan kata yang berarti tempat yang penuh fantasi dan mimpi. Damien Chazelle, sutradara yang baru berusia 31 tahun, mewujudkan impinya untuk membuat film tentang para pemimpi di kota penuh mimpi.

Para pemimpi itu diwakili oleh Mia, seorang aktris muda yang telah enam tahun meramaikan bursa seni peran namun tak kunjung mendapat panggilan, yang dengan kualitas eksepsional diperankan oleh Emma Stone. Ia tanpa sengaja berjumpa dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pemain piano aliran jazz yang baru saja kehilangan bar musik miliknya. Keduanya bertemu dalam momen fana yang penuh pana, mengawali interaksi romansa antara keduanya – serta mimpi keduanya. Nuansa yang penuh warna, dipadu dengan musik yang mengalun dengan mesra dan sesekali penuh rasa gegap gempita, selalu menemani di setiap adegan seakan menjadi karakter ketiga. Karakter ketiga yang ketimbang menjadi perantara, malah menjadi penyekat maya antara keduanya.

Continue reading

Swiss Army Man: Menemukan Hati dari yang Telah Mati

swiss-army-man-1

Swiss Army Man adalah salah satu film tahun ini yang kemunculannya saya nantikan. Premis yang menarik dan menjanjikan kejenakaan menjadi satu dari sekian alasan. Premis yang diusung oleh film ini tentu akan langsung mengingatkan kita akan Cast Away – terutama versi yang dibintangi Tom Hanks. Film ini adalah jawaban akan pertanyaan tentang bagaimana apabila film tersebut dirotasi menjadi komedi.

Film ini dibuka dengan penggambaran keputusasaan karakter Hank Thompson (Paul Dano) yang terdampar di suatu pulau karang terpencil di kawasan Pasifik. Ia yang telah dipenghujung asa, dengan tali yang telah terkalung, mendadak urung saat menjumpai sesosok jasad yang terapung (Daniel Radcliffe). Tentu sesuai yang dinyana, jasad itu adalah si sosok manusia – tak bernyawa yang – serbaguna. Tapi yang patut ditanya, bagaimana kedua karakter kemudian bisa bertukar kata?

Continue reading

The Lobster: Kala Cinta Direkayasa

vlcsnap-error479

The relationship can’t be built from a lie”.  Segala hubungan – sekalipun tidak dilandasi cinta, tentu tabu untuk dibumbui dengan dusta. Apalagi dalam menjalin hubungan asmara.

David (Colin Farell), yang belum lama ini ditinggal istrinya, harus menghadapi konsekuensi hidup melajang. Berkat tinggal di The City, kota dengan supremasi statuta yang – lucunya – turut meregulasi hubungan asmara penduduknya. Aturan itu adalah pelarangan kelajangan. Mereka yang kebetulan sedang, atau memang dirundung peruntungan, wajib dipusatkan dalam Hotel. Istilahnya asrama asmara. David pun tidak luput dikirim ke sana.

Mereka yang tinggal di Hotel diberikan jangka waktu terbatas: 45 hari untuk mencari cinta. Tentunya jatah menginap di sana bukan tanpa aktivitas. Mulai dari lokakarya hidup berpasangan yang mencuci otak para penghuni, kegiatan bebas di sekitar kawasan Hotel, stimulasi pagi hari, hingga berburu ke hutan. Perburuan yang berinsentif penambahan masa tinggal yang hitungannya per hari per tangkapan. Dalam – sedikitnya – 45 hari, penghuni mesti mendapatkan pasangan yang memiliki kesamaan karakteristik utama. Apabila tidak, transformasi menjadi hewan konsekuensinya.

Continue reading