Elle: Daif namun Manipulatif

Elle.gif

Shame isn’t a strong enough emotion to stop us from doing anything at all

— Michèle Leblanc

Michèle Leblanc (Isabelle Huppert), wanita paruh baya dengan kelas sosial menengah ke atas yang tinggal seorang diri, mengalami kejadian tidak mengenakkan. Ia secara tiba-tiba diserang dan diperkosa oleh seorang lelaki tak dikenal yang masuk ke rumahnya. Masa lalu buram saat berurusan dengan polisi, membuatnya enggan melaporkannya. Tanpa tedeng aling, ia mulai mencari satu per satu lelaki yang sekiranya dapat jadi tersangka utama.

Continue reading

Hell or High Water: Menangkal Aral

Hell or High Water.gif

I’ve been poor my whole life, like a disease passing from generation to generation. But not my boys, not anymore.”

— Toby Howard

Sepasang kakak beradik, Tanner Howard (Ben Foster) dan Toby Howard (Chris Pine), merampok sebuah bank di suatu pagi. Tidak satu, tapi dua, hingga tingga cabang bank bernama Texas Midland Bank yang mereka sambangi. Melihat pola perampokan yang rapi dan hati-hati, seorang polisi lokal Marcus Hamilton (Jeff Bridges) bersama rekannya, Alberto Parker (Gil Birmingham), berupaya mengejar kedua tersangka. Sambil melakukan pengejaran, perlahan tabir sistem keuangan yang bobrok mereka buka.

Continue reading

The VVitch: Menyihir yang Tahir

the-vvitch

Wouldst thou like to live deliciously? Wouldst thou like to see the world?

Jamak film menyertakan karakter penyihir tua jahat dalam alur ceritanya. Entah itu dalam film fantasi klasik di The Wizard of Oz, fantasi kontemporer dalam The Witches, hingga tentunya film yang menakutkan semacam Drag Me to Hell. Kehadirannya yang kerap disinggung hingga sekarang kerap memunculkan tanya, sekadar mitos, hasil distorsi sejarah, atau memang nyata adanya. Robert Eggers kemudian maju meluruskan kesimpangsiuran ini dalam film karyanya.

Berlatar tahun 1630 di kawasan koloni New England, satu keluarga mesti pindah dari tempat tinggal mereka dari wilayah perkebunan milik kaum puritan karena diusir oleh pihak gereja. William (Ralph Ineson), sebagai kepala keluarga, memutuskan untuk mengajak serta keluarganya pindah ke kawasan pinggiran hutan. Malangnya, tak lama anak bungsu mereka yang masih bayi menghilang saat dalam pengawasan anak sulung mereka, Thomasin (Anya Taylor-Joy). Peristiwa yang rupanya mengawali rangkaian peristiwa musykil yang hadir di sekitar Thomasin.

Continue reading

Forushande (The Salesman): Renjana Membawa Nestapa

forushande

Kita tidak pernah tahu kapan peristiwa buruk akan melanda nasib kita. Percuma pula menanti dan mustahil mengelak bila ia tiba. Maka tak heran, kehadirannya kerap ditafsirkan sebagai ujian. Sebab hanya dalam jeruji uji, karakteristik sebenarnya seseorang akan nampak, jika bukan kian.

Akibat proses konstruksi apartemen yang fatal, Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti), sepasang suami istri yang juga pelaku seni drama teater mesti berpindah ke apartemen baru. Babak (Babak Karimi), lawan main mereka di pentas terbarunya yang berjudul The Death of a Salesman, menawarkan opsi tersebut. Tanpa mengetahui reputasi buruk wanita penghuni sebelumnya yang masih menyimpan barang-barang milik di salah satu bilik, keduanya menyerahkan sepenuhnya kepercayaan kepada Babak. Hingga tak lama, sebuah insiden yang menimpa Rana menggiring buncahan emosi Emad untuk berinisiatif menyibak.

Continue reading

Manchester by the Sea: Memungkiri Perih tak Terperi

manchester-by-the-sea

Barangkali solusi paling sederhana untuk kerumitan persoalan yang dialami adalah dengan mengasingkan diri. Apalagi yang terjadi telah terjadi, tanpa ada sebersitpun kemungkinan untuk rekonsiliasi. Ini yang terjadi pada Lee Chandler (Casey Affleck), pribadi penyendiri penutup diri yang terjerembap di pusara masa lalu oleh sebuah tragedi.

Ia yang berprofesi sebagai pembersih di sebuah apartemen di Boston, Massachusetts, mesti kembali ke kota kelahirannya di 40 km sebelah utara, Manchester-by-the-sea akibat meninggalnya sang kakak, Joe Chandler (Kyle Chandler). Keengganan yang tampak di raut wajahnya kian jelas saat ia diamanahkan untuk mengasuh sang keponakan, Patrick (Lucas Hedges), hingga mencapai usia dewasanya. Sembari mengatur proses pemakaman, keduanya yang berbeda kehendak mulai saling berkompromi seiring pertemuannya dengan kepahitan di masa lalu masing-masing.

Continue reading

The Handmaiden: Kepingan Intrik dalam Mozaik

the-handmaiden

Selaras dengan reputasi yang telah dibangunnya dalam Vengeance Trilogy, Park Chan-wook kembali hadir dengan film beraliran psychological thriller dalam sematan berahi. Dalam The Handmaiden, ia membalut intrik, menyandingkannya dengan desain produksi yang apik, dan dengan narasi multiperspektif yang unik, ia kulik. Tentu saja, dengan ciri khasnya sebagai sutradara, selalu ada unsur yang oleh karakter utama tidak mampu ditampik.

Di era kependudukan Jepang di Korea Selatan, seorang penipu ulung yang memiliki nama palsu Fujiwara (Ha Jung-woo), merekrut seorang pencopet yang tinggal di rumah penadah sekaligus toko perak, Sook-Hee (Kim Taer-ri). Ia hendak dijadikan pelayan baru yang melayani kebutuhan pribadi Nona Hideko (Kim Min-hee), seorang ahli waris perempuan ‘polos’ yang dipingit oleh pamannya yang cabul, Kouzuki (Jo Jin-woong). Rencana awalnya, Fujiwara akan mempersunting Hideko dan dengan bantuan Sook-Hee, melibas harta warisannya. Tanpa seorang pun duga, konspirasi yang tertata dengan rapi, justru terintervensi urusan hati.

Continue reading

Sing Street: Menampik Pelik melalui Musik

sing-street

“Going up. She Lights me up. She breaks me up. She lifts me up.”

Musik memang banyak menjadi inspirasi bagi banyak pihak, baik yang menjadi fanatik atau terpantik untuk membuat karya yang apik. Untuk John Carney, sepertinya ia termasuk dalam golongan kedua. Meneruskan resep handalnya dalam menciptakan film yang menyertakan musik ciptaannya, ia membangkitkan ingatannya sendiri dalam bermusik dengan unsur nostalgia. Adapula sedikit tambahan komponen yang membuat film ini terasa berbeda dari film-filmnya sebelumnya.

Nostalgia yang berlatar di Dublin pada tahun 1985, di mana kondisi perekonomian yang buruk memberikan imbas bagi masyarakatnya. Conor (Ferdia Walsh-Peelo), yang hidup di keluarga kelas menengah, juga memperoleh imbasnya yang mengharuskannya berpindah dari sekolah privat ke sekolah katolik. Bak anugerah tak dinyana, perpindahan ini justru mempertemukannya dengan sosok Raphina (Lucy Boynton), gadis muda yang memantik alasannya untuk bersegera membentuk band di SMA-nya.

Bernama Sing Street – plesetan dari nama sekolah mereka, Synge Street – Conor mengawali dengan menggaet Darren Mulvey (Ben Carolan) sebagai manajer. Dari situ, ia kemudian merekrut Eamon (Mark McKenna), yang bertalenta dan mahir menggunakan pelbagai macam alat musik. Formasinya kemudian disempurnakan dengan kehadiran N’gig (Percy Chamburuka) sebagai keyboardist, Garry (Karl Rice) sebagai bassist, dan Larry (Conor Hamilton) sebagai drummer. Keenamnya mulai mengelaborasi musik dengan meniru dan membawakan musik dari band ternama, hingga kemudian bertransformasi dalam setiap aransemen lagu yang berbeda.

Continue reading

Nocturnal Animals: Menghalusi Alusi

Nocturnal Animals.gif

When you love someone, you have to be careful with it. You might never get it again.”                     –  Edward Sheffield

Kendati sempat dibuka dengan adegan yang tidak lazim maupun relevan, Nocturnal Animals menyajikan narasi penceritaan yang lumayan menjanjikan. Hati-hati memperlakukan hati, barangkali itu yang hendak Tom Ford, selaku sutradara, hendak kemukakan sebagai inti. Salah-salah, olehnya kita bisa dibuat mati.

Itu yang disadari oleh Susan (Amy Adams) saat menerima paket berisi naskah final novel buatan mantan suaminya hampir dua puluh tahun yang lalu, Edward Sheffield (Jake Gyllenhaal). Halaman demi halaman tulisan yang ia telan dalam tiap malam yang ia lalui sebagai pengidap insomnia akut, ia anggap sebagai sebuah ancaman simbolis atau skenario pembalasan dendam. Dendam akan masa lalu keduanya, saat mengakhiri hubungan.dengan cara yang tidak mengenakkan.

Continue reading

Loving: Menyelaras Cinta Antar-Ras

loving

Mildred: “I’m pregnant.”

Richard: “Good. That’s real good.”

Hingar bingar persoalan diskriminasi antar-ras yang terjadi di Amerika Serikat (AS), merupakan diskursus kontemporer yang tak kunjung selesai. Belakangan, sentimen ini kian mencuat melalui maraknya tema perfilman negeri sana yang mengusung emansipasi ras Afrika-Amerika. Memanfaatkan momentum serupa, Jeff Nichols mengambil keuntungan dari isu yang mencuat ini dengan mengambil irisan yang mempersatukan, bukan saling memencilkan: cinta.

Richard Loving (Joel Edgerton) dan Mildred ‘Bean’ Jeter (Ruth Negga) adalah dua sejoli berbeda ras yang tinggal di Caroline County, negara bagian Virginia. Cintanya yang berbuah kehamilan Mildred, menjadi alasan keduanya untuk melangsungkan pernikahan. Tinggal di negara bagian yang belum melandasi konstitusi pernikahan berlatar belakang perbedaan warna kulit, di negara bagian Washington ikrar keduanya digamit. Meski keduanya memahami bahwa pilihan itu akan menimbulkan konsekuensi yang rumit.

Continue reading

Bad Ma Ra Khahad Bord (The Wind Will Carry Us): Menyitir Semilir Syair

bad-ma-ra-khahad-bord

…. and entrust your lips, replete with life’s warmth,
To the touch of my loving lips
The wind will carry us!
The wind will carry us!

–   Forough Farrokhzad

Kembali, saya perlu berulang kali menyaksikan film ini untuk dapat memahami kandungan arti yang ingin disampaikan Kiarostami. Inovasinya dalam membuat film yang berlatar puisi, seperti yang ia lakukan di Taste of Cherry, kembali ia teruskan. Meski kali ini, ia lebih mengelaborasi berkembangnya karakter utama dari kacamata reaksinya sendiri akan suatu situasi baru yang ia alami. Berbekal judul dari puisi yang berjudul sama, Kiarostami betul-betul mengalienasi para penyimak dan dengan alur cerita yang perlahan, satu persatu intensinya – melalui gestur dan dialog karakter utama – ia kuak.

Behzad (Behzad Dorani), nama si karakter utama, mendatangi sebuah desa perbukitan yang masuk ke wilayah suku Kurdi, 700 km dari kota Teheran. Ia, bersama ketiga rekannya, bermaksud untuk mengunjungi seorang wanita uzur dan cacat yang sedang sekarat menuju wafat. Meski seiring waktu, melalui kehendaknya yang perlahan tersibak, justru membuatnya tertahan lebih lama di desa dan menjadikannya seorang penyimak.

Kiarostami seperti menempatkan para penyimak filmnya untuk – entah berempati, atau – memosisikan diri sebagai Behzad. Karakter lain yang ia berikan ruang untuk berdialog – baik dengan atau saat diperhatikan oleh Behzad – hanyalah menjadi lapisan yang membuka pemahaman bagi si penyimak. Pemahaman akan kehidupan di pedesaan yang terasa baru bagi Behzad dan pemahaman akan film secara keseluruhan bagi penyaksama film ini. Karena melalui para karakter itulah, arah bagaimana intensi Behzad – yang menjadi ide cerita film ini – akhirnya terungkap.

Continue reading