Forushande (The Salesman): Renjana Membawa Nestapa

forushande

Kita tidak pernah tahu kapan peristiwa buruk akan melanda nasib kita. Percuma pula menanti dan mustahil mengelak bila ia tiba. Maka tak heran, kehadirannya kerap ditafsirkan sebagai ujian. Sebab hanya dalam jeruji uji, karakteristik sebenarnya seseorang akan nampak, jika bukan kian.

Akibat proses konstruksi apartemen yang fatal, Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti), sepasang suami istri yang juga pelaku seni drama teater mesti berpindah ke apartemen baru. Babak (Babak Karimi), lawan main mereka di pentas terbarunya yang berjudul The Death of a Salesman, menawarkan opsi tersebut. Tanpa mengetahui reputasi buruk wanita penghuni sebelumnya yang masih menyimpan barang-barang milik di salah satu bilik, keduanya menyerahkan sepenuhnya kepercayaan kepada Babak. Hingga tak lama, sebuah insiden yang menimpa Rana menggiring buncahan emosi Emad untuk berinisiatif menyibak.

Continue reading

Advertisements

Bad Ma Ra Khahad Bord (The Wind Will Carry Us): Menyitir Semilir Syair

bad-ma-ra-khahad-bord

…. and entrust your lips, replete with life’s warmth,
To the touch of my loving lips
The wind will carry us!
The wind will carry us!

–   Forough Farrokhzad

Kembali, saya perlu berulang kali menyaksikan film ini untuk dapat memahami kandungan arti yang ingin disampaikan Kiarostami. Inovasinya dalam membuat film yang berlatar puisi, seperti yang ia lakukan di Taste of Cherry, kembali ia teruskan. Meski kali ini, ia lebih mengelaborasi berkembangnya karakter utama dari kacamata reaksinya sendiri akan suatu situasi baru yang ia alami. Berbekal judul dari puisi yang berjudul sama, Kiarostami betul-betul mengalienasi para penyimak dan dengan alur cerita yang perlahan, satu persatu intensinya – melalui gestur dan dialog karakter utama – ia kuak.

Behzad (Behzad Dorani), nama si karakter utama, mendatangi sebuah desa perbukitan yang masuk ke wilayah suku Kurdi, 700 km dari kota Teheran. Ia, bersama ketiga rekannya, bermaksud untuk mengunjungi seorang wanita uzur dan cacat yang sedang sekarat menuju wafat. Meski seiring waktu, melalui kehendaknya yang perlahan tersibak, justru membuatnya tertahan lebih lama di desa dan menjadikannya seorang penyimak.

Kiarostami seperti menempatkan para penyimak filmnya untuk – entah berempati, atau – memosisikan diri sebagai Behzad. Karakter lain yang ia berikan ruang untuk berdialog – baik dengan atau saat diperhatikan oleh Behzad – hanyalah menjadi lapisan yang membuka pemahaman bagi si penyimak. Pemahaman akan kehidupan di pedesaan yang terasa baru bagi Behzad dan pemahaman akan film secara keseluruhan bagi penyaksama film ini. Karena melalui para karakter itulah, arah bagaimana intensi Behzad – yang menjadi ide cerita film ini – akhirnya terungkap.

Continue reading

Ta’m e Guilass (Taste of Cherry): Ironi di Bawah Pohon Ceri

tam-e-guilass

If you look at the four seasons, each season brings fruit. In summer, there’s fruit, in autumn, too. Winter brings different fruit and spring, too. No mother can fill her fridge with such a variety of fruit for her children. No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?

Tidak cukup sekali, tapi butuh dua, tiga kali bagi saya untuk menyaksikan film ini sebelum memahami premis apa yang hendak dikedepankan di dalamnya. Alurnya yang relatif lambat dalam menguak motif tokoh utama menjadi alasan, meski gamblang apa yang ia tuju. Melalui serangkaian dialog – bahkan dialektika – dengan sekelumit pihak yang melambangkan pesan yang tidak terlampau sumir, Kiarostami menghidupkan puisi lirih sekaligus kritik geopolitik di kawasannya dengan pendekatan yang satire. Satire yang dalam narasinya tidak hanya bertaji, tapi juga penuh dengan ironi.

Badii (Homayoun Ershadi), pria paruh baya yang mengelilingi kawasan gunung tandus, mencari orang-orang yang – di pandangannya – membutuhkan uang. Pendekatannya yang terkesan mencurigakan dan kaku, membuat beberapa yang ia dekati menolak preposisinya. Kehendaknya cuma satu: mencari satu orang yang menyerok sekop untuk mengubur jasadnya yang akan mati. Kematian yang akan ia jemput sendiri.

Continue reading

Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees): Melantun di bawah Zaitun

through-the-olive-trees

Modalitas Hossein dalam merayu Tahereh bukanlah bermodal setara harta, melainkan determinasi yang wujudnya tak kentara.

Mengakhiri petualangannya di Desa Koker, 350 km di sebelah utara kota Teheran, Kiarostami kembali membawa karyanya ke dalam tingkatan berbeda. Sebagai film penutup dari seri Koker Trilogy, Through the Olive Trees, kian menyahihkan kualitasnya dalam mengembangkan cerita dari ide yang sederhana. Kali ini berlatar kejadian selama proses pengambilan gambar filmnya sebelumnya: Life, and Nothing More, tentang perjuangan aktor pendukungnya dalam meraih hati gadis pujaannya yang juga menjadi aktris pendukung di dalamnya.

Hossein (Hossein Rezai), dipilih untuk menggantikan salah satu aktor pendukung film terbaru seorang sutradara yang sebelumnya juga pernah membuat film di desanya (Mohamed Ali Keshavarz). Namun, tanpa ia ketahui sebelumnya, lawan mainnya dalam adegan di film tersebut adalah Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis yang ia ingin nikahi namun keluarganya tidak kunjung merestui. Kesungguhan dan keteguhan Hossein berulang kali teruji, melalui dialognya dengan sang sutradara berusaha memahami, penolakan dari (keluarga) Tahereh yang berulang kali, hingga jawaban yang muncul setelah bukit dan pepohonan zaitun dilalui.

Continue reading

Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

and-life-goes-on

Bencana selalu hadir tanpa dinyana, menyematkan duka lara di antara serakan puing yang tersisa. Namun di Koker dan sekitarnya, yang ada justru asa yang terasa.

Gempa bumi yang melanda kawasan Iran bagian utara pada Juni 1990, memakan korban jiwa yang cukup besar. Koker, salah satu desa yang masuk kawasan terkena bencana, yang menjadi latar film yang sang sutradara (Farhad Kheradmand) buat beberapa waktu lalu pun turut terkena. Tanpa kepastian informasi, ia dan anaknya, Puya (Buba Bayour), kembali ke kawasan tersebut lima hari setelah gempa terjadi. Dengan harapan, anak kecil yang menjadi tokoh utamanya tak termasuk salah satu korban.

Continue reading

Nema-ye Nazdik (Close-Up): Peran Menawan Hossain Sabzian

closeup

“When spite comes along, art dons a veil”

Seni akan bersembunyi seiring hadirnya dengki, ucap Hossain Sabzian saat membela diri. Kejadian yang mustahil dapat diulangi, dan Kiarostami menemukannya dengan jeli.

Hossain Sabzian adalah seorang duda beranak dua yang bekerja di pabrik percetakan dengan pendapatan pas-pasan. Bahkan ia bercerai karena itu yang menjadi alasan. Lebih dari itu, ia adalah seorang pencinta sinema. Baginya, film adalah representasi bagi perjuangan masyarakat yang satu strata sosial dengannya. Saat membaca buku naskah film favoritnya, The Cyclist, ia bertemu dengan Nyonya Ahankhah, yang mengiranya sebagai Mohsein Makhmalbaf, sutradara buku yang ia baca. Menganggap itu sebagai kesempatan untuk bermain peran, ia lantas lanjut berpura-pura.

Continue reading

Khane-ye Doust Kodjast? (Where is the Friend’s Home?): Dimana Rumah Reza?

where-is-the-friends-home

Sewaktu kesempatan terakhir yang diberikan kepada kawannya terancam mengganjal, ditambah kejadian yang membuat buku kawannya tertinggal, Ahmad mesti berkejaran dengan waktu mencari rumah kawannya meski berpegal dan bersengal.

Berlatar wilayah pedesaan Koker yang berkontur bukit, Khane-ye Doust Kodjast menjadi karya Kiarostami yang menandai kembalinya ia semenjak vakum selama sedekade. Film yang sekaligus menjadi kerjasama keempatnya dengan Kanoon, ini kembali menyorot anak-anak sebagai karakter utamanya. Lagi, penceritaan yang sederhana mampu disuguhi Kiarostami tanpa menanggalkan pesan moral sekaligus menjejalkan ihwal lain yang dianggap substansial.

Alkisah, Ahmed (Babek Ahmed Poor), tanpa sengaja membawa buku pekerjaan rumah (PR) yang sampulnya sama dengan milik kawannya, Reza Nematzadeh (Ahmed Ahmed Poor). Sementara Reza terancam dikeluarkan dari sekolah jika kembali tidak mengerjakan PR-nya di buku tersebut. Posisi Ahmed kian dilematis ketika ibundanya (Kheda Barech Defai) tidak lantas mengizinkan ia untuk mengembalikan buku tersebut ke Reza. Terlebih, tempat tinggal Ahmed dan Reza yang berjauhan karena berbeda desa, menjadi alasan tambahan bagi sang ibunda.

Continue reading

Gozaresh (The Report): Drama Domestik Penuh Konflik

gozaresh1

Menjadi film pertamanya yang bukan bagian dari produksi bersama Kanoon, Gozaresh menyorot persoalan rumah tangga yang dialami oleh pasangan kelas menengah moderat di Iran. Drama domestik yang semarak dengan situasi zaman, kendati tidak dipoles dengan alur yang meyakinkan.

Mamad (Kurosh Afsharpanah), adalah seorang petugas pajak sekaligus suami yang tidak setia bagi Shoreh (Shohreh Aghdashloo). Kondisi rumah tangga yang cenderung tidak stabil berkat kecurigaan sang istri akan kehidupan malam Mamad, membuat keduanya sering berselisih. Persoalan eksternal seperti tuduhan kepada Mamad akan penerimaan suap, ultimatum sewa apertemen yang kian mendekat, menambah tekanan bagi keduanya. Tekanan bertubi-tubi yang menumpuk seakan menunggu momentum untuk bereksplosi. Dan itu terjadi.

Continue reading

Lebassi Baraye Arossi (A Wedding Suit): Lambang Kelas dalam Setelan Jas

wedding-suit

Dinamika yang terjadi pada usia pra-remaja adalah salah satu momen yang berkesan dalam kehidupan. Kiarostami mengemasnya dalam kerangka kelas pekerja Iran di dekade 1970-an.

Ini adalah film ketiga Kiarostami yang merupakan buah kerjasama dengan Institute for the Intellectual Development of Children and Young Adults (IIDCYA) yang biasa disebut dengan Kanoon. Kendati begitu, nilai pendidikan yang lekat di dua film sebelumnya justru tidak terasa dominan dalam film ini. Pun, kesan yang sama terjadi pada pesan moral yang tidak terpampang gamblang.

Adalah Mamad (Mohammad Fassih), pemuda tanggung yang magang di tempat makan di salah satu kompleks sandang lokal di daerah urban Iran, berteman dengan dua pemuda lainnya, Hossein (Mehdi Nekoueï), yang magang di tempat garmen, dan Ali (Massoud Zand), yang magang di tempat penjahit jas. Mamad merupakan karakter yang keras, hobi berkelahi, bahkan sesekali kerap berbohong, Bahkan, ia disebut sebagai seorang penggertak yang intimidatif oleh Hossein, yang kerap jadi korbannya. Singkat cerita, keduanya hendak meminjam jas yang baru saja dipesan di tempat magang Ali. Ali yang enggan meminjamkan ke Mamad, hanya mengiyakan keinginan Hossein untuk meminjam, tanpa mengetahui gertakan dari Mamad ke Hossein di belakangnya.

Continue reading

Mossafer (The Traveller): Menyentil Si Degil

mosafer1

Kembali menjadikan anak lelaki yang menjelang remaja sebagai tokoh utama, Kiarostami kali ini sedikit mengalihkan fokusnya. Jika pada Tadjrebeh ia memotret polah dan reaksi tokoh utama atas pengaruh dan tekanan di sekitarnya, kali ini ia menjangkau reaksi – serta konsekuensi – dari aksi Qassem (Hassan Darabi). Tentunya aksi yang penuh dengan unsur kenakalan dan kebanalan.

Syahdan, Qassem, seorang anak lelaki yang hobi bermain sepakbola sampai-sampai berulangkali bermasalah dengan sekolah dan keluarganya. Suatu saat, ia yang tinggal jauh dari ibukota Iran ini hendak menyaksikan langsung pertandingan sepakbola tim nasionalnya yang akan bertanding dalam kurun waktu dua hari. Menghalalkan segala cara sekalipun ia tempuh demi menyatakan kehendaknya. Dari mencuri, berbohong, menipu, hingga menilap ia lakukan. Kelakuan nekatnya ini bukan tanpa taruhan. Berkurangnya waktu belajar sebelum ujian serta kepercayaan orang tua dan kawan-kawan satu tim sepakbolanya bahkan rela ia jadikan jaminan.

Continue reading