Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

and-life-goes-on

Bencana selalu hadir tanpa dinyana, menyematkan duka lara di antara serakan puing yang tersisa. Namun di Koker dan sekitarnya, yang ada justru asa yang terasa.

Gempa bumi yang melanda kawasan Iran bagian utara pada Juni 1990, memakan korban jiwa yang cukup besar. Koker, salah satu desa yang masuk kawasan terkena bencana, yang menjadi latar film yang sang sutradara (Farhad Kheradmand) buat beberapa waktu lalu pun turut terkena. Tanpa kepastian informasi, ia dan anaknya, Puya (Buba Bayour), kembali ke kawasan tersebut lima hari setelah gempa terjadi. Dengan harapan, anak kecil yang menjadi tokoh utamanya tak termasuk salah satu korban.

Continue reading

Advertisements

Khane-ye Doust Kodjast? (Where is the Friend’s Home?): Dimana Rumah Reza?

where-is-the-friends-home

Sewaktu kesempatan terakhir yang diberikan kepada kawannya terancam mengganjal, ditambah kejadian yang membuat buku kawannya tertinggal, Ahmad mesti berkejaran dengan waktu mencari rumah kawannya meski berpegal dan bersengal.

Berlatar wilayah pedesaan Koker yang berkontur bukit, Khane-ye Doust Kodjast menjadi karya Kiarostami yang menandai kembalinya ia semenjak vakum selama sedekade. Film yang sekaligus menjadi kerjasama keempatnya dengan Kanoon, ini kembali menyorot anak-anak sebagai karakter utamanya. Lagi, penceritaan yang sederhana mampu disuguhi Kiarostami tanpa menanggalkan pesan moral sekaligus menjejalkan ihwal lain yang dianggap substansial.

Alkisah, Ahmed (Babek Ahmed Poor), tanpa sengaja membawa buku pekerjaan rumah (PR) yang sampulnya sama dengan milik kawannya, Reza Nematzadeh (Ahmed Ahmed Poor). Sementara Reza terancam dikeluarkan dari sekolah jika kembali tidak mengerjakan PR-nya di buku tersebut. Posisi Ahmed kian dilematis ketika ibundanya (Kheda Barech Defai) tidak lantas mengizinkan ia untuk mengembalikan buku tersebut ke Reza. Terlebih, tempat tinggal Ahmed dan Reza yang berjauhan karena berbeda desa, menjadi alasan tambahan bagi sang ibunda.

Continue reading

Mossafer (The Traveller): Menyentil Si Degil

mosafer1

Kembali menjadikan anak lelaki yang menjelang remaja sebagai tokoh utama, Kiarostami kali ini sedikit mengalihkan fokusnya. Jika pada Tadjrebeh ia memotret polah dan reaksi tokoh utama atas pengaruh dan tekanan di sekitarnya, kali ini ia menjangkau reaksi – serta konsekuensi – dari aksi Qassem (Hassan Darabi). Tentunya aksi yang penuh dengan unsur kenakalan dan kebanalan.

Syahdan, Qassem, seorang anak lelaki yang hobi bermain sepakbola sampai-sampai berulangkali bermasalah dengan sekolah dan keluarganya. Suatu saat, ia yang tinggal jauh dari ibukota Iran ini hendak menyaksikan langsung pertandingan sepakbola tim nasionalnya yang akan bertanding dalam kurun waktu dua hari. Menghalalkan segala cara sekalipun ia tempuh demi menyatakan kehendaknya. Dari mencuri, berbohong, menipu, hingga menilap ia lakukan. Kelakuan nekatnya ini bukan tanpa taruhan. Berkurangnya waktu belajar sebelum ujian serta kepercayaan orang tua dan kawan-kawan satu tim sepakbolanya bahkan rela ia jadikan jaminan.

Continue reading

Swiss Army Man: Menemukan Hati dari yang Telah Mati

swiss-army-man-1

Swiss Army Man adalah salah satu film tahun ini yang kemunculannya saya nantikan. Premis yang menarik dan menjanjikan kejenakaan menjadi satu dari sekian alasan. Premis yang diusung oleh film ini tentu akan langsung mengingatkan kita akan Cast Away – terutama versi yang dibintangi Tom Hanks. Film ini adalah jawaban akan pertanyaan tentang bagaimana apabila film tersebut dirotasi menjadi komedi.

Film ini dibuka dengan penggambaran keputusasaan karakter Hank Thompson (Paul Dano) yang terdampar di suatu pulau karang terpencil di kawasan Pasifik. Ia yang telah dipenghujung asa, dengan tali yang telah terkalung, mendadak urung saat menjumpai sesosok jasad yang terapung (Daniel Radcliffe). Tentu sesuai yang dinyana, jasad itu adalah si sosok manusia – tak bernyawa yang – serbaguna. Tapi yang patut ditanya, bagaimana kedua karakter kemudian bisa bertukar kata?

Continue reading