Forushande (The Salesman): Renjana Membawa Nestapa

forushande

Kita tidak pernah tahu kapan peristiwa buruk akan melanda nasib kita. Percuma pula menanti dan mustahil mengelak bila ia tiba. Maka tak heran, kehadirannya kerap ditafsirkan sebagai ujian. Sebab hanya dalam jeruji uji, karakteristik sebenarnya seseorang akan nampak, jika bukan kian.

Akibat proses konstruksi apartemen yang fatal, Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti), sepasang suami istri yang juga pelaku seni drama teater mesti berpindah ke apartemen baru. Babak (Babak Karimi), lawan main mereka di pentas terbarunya yang berjudul The Death of a Salesman, menawarkan opsi tersebut. Tanpa mengetahui reputasi buruk wanita penghuni sebelumnya yang masih menyimpan barang-barang milik di salah satu bilik, keduanya menyerahkan sepenuhnya kepercayaan kepada Babak. Hingga tak lama, sebuah insiden yang menimpa Rana menggiring buncahan emosi Emad untuk berinisiatif menyibak.

Satu per satu petunjuk, mulai dari profesi wanita penghuni apartemen sebelumnya yang memiliki banyak ‘pelanggan’, barang-barang pelaku yang tertinggal, hingga pesan suara yang terekam, mulai ia rujuk. Deduksi yang jauh dari sempurna mau tak mau dilakukan Emad ketimbang melapor ke polisi karena aib yang menyeluk. Ketidaksempurnaan deduksi pula yang sempat membuatnya salah tunjuk. Meski akhirnya ia menemukan sosok yang kuat untuk dijadikan sebagai terdakwa, Rana tak lagi mampu membendung sentimen Emad yang kian membumbung akan sosok uzur yang limbung.

forushande2

Melebur dan Mencampur

Menjadi film ketujuh bagi Farhadi, The Salesman kembali meneruskan resep suksesnya dengan membawa tema segala peristiwa manusia(wi) masyarakat kelas menengah berlatar drama rumah tangga. Bagi yang sudah menyaksikan Chaharshanbe-soori (Firework Wednesday), Darbareye Elly (About Elly), dan Jodaeiye Nader az Simin (A Separation), pasti sadar bahwa The Salesman memiliki kesamaan baik dalam tema dan maupun pemeran wanita: Taraneh Alidoosti. Film ini kian menahbiskan dirinya sebagai muse-nya Farhadi. Ini juga menjadi kali keduanya Alidoosti menjadi lawan main Hosseini setelah di About Elly.

Dalam mengarahkan, Farhadi menggunakan istilah metaforis dengan mengibaratkan para karakter di filmnya seperti bola di meja biliar. Bila salah satunya terpukul, yang lainnya akan terkena efek bandul dan ikut terpantul. Demikian halnya dalam The Salesman. Setelah bola putih biliar dipukul, Rana yang cenderung asertif seperti saat memutuskan untuk mengeluarkan barang milik bekas penghuni sebelumnya, beralih menjadi pribadi yang plegmatis. Emad yang sebelumnya adalah seorang suami dan guru yang ramah dan tidak gampang marah, berubah menjadi karakter koleris yang penuh curiga. Tatapan mata memerah Shahab Hosseini yang – menjadi ciri khasnya sejak About Elly – amat dipenuhi renjana, kian mengaksentuasi hal ini.

Farhadi masih tetap setia dengan aliran realisme yang melebur tapal-batas antara dokumenter dengan drama. Dalam melebur, sekalipun konsepnya serupa, tapi pada tataran eksekusinya tidak sama dengan pendahulunya yang sukses di aliran tersebut: Abbas Kiarostami. Ada diferensiasi, yang paling gamblang tentunya Farhadi yang focus pada skala pertikaian rumah tangga. Lebih jauh lagi, pada film kali ini Farhadi menyempilkan unsur neo-noir yang membuat kita sebagai penyimak terus menduga-duga siapa gerangan yang memantik perkara. Kali ini ia juga memasukkan unsur drama teater dalam lingkup alur kisah dan naskah ceritanya – yang sebenarnya secara garis besar dapat dikategorikan meta-adaptasi.

Farhadi juga secara konsisten tetap menampilkan secara detil unsur-unsur keliru dan alpa yang tanpa mustahil lekat dalam diri manusia. Ia dengan cakap mampu memadumadankan kecenderungan seseorang untuk berdusta dalam hal sepele (white lie), atau tindakan dan pemikiran apriori yang kerap menjadi argumentasi tindakan atau respon seseorang. Dalam The Salesman, ini direpresentasikan kepala panas Emad yang menumpulkan empati dan nalar setelah menemukan bukti tak bergerak, hingga menafikan alibi yang berkali-kali diungkapkan sang terdakwa, yang secara naas dan ironis menjadi penyebabnya sekarat.

Ini yang membuat drama karya Farhadi selalu menarik untuk disimak dan dinanti-nantikan para penyimak. Karena kemampuannya untuk memotret kekeliruan dalam diri manusia yang tak luput dari salah dan lupa. Kekeliruan yang menjadikan manusia, manusia.

The Salesman (2016) | Sutradara: Asghar Farhadi | Durasi: 119 Menit | Pemeran: Taraneh Alidoosti, Shahab Hosseini, Babak Karimi, Mina Sadati, Farid Sajjadi Hosseini, Mojtaba Pirzadeh, Emad Emami, Maral Bani Adam, Mehdi Koushki, Sam Valipour

Rating4,5stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s