The Handmaiden: Kepingan Intrik dalam Mozaik

the-handmaiden

Selaras dengan reputasi yang telah dibangunnya dalam Vengeance Trilogy, Park Chan-wook kembali hadir dengan film beraliran psychological thriller dalam sematan berahi. Dalam The Handmaiden, ia membalut intrik, menyandingkannya dengan desain produksi yang apik, dan dengan narasi multiperspektif yang unik, ia kulik. Tentu saja, dengan ciri khasnya sebagai sutradara, selalu ada unsur yang oleh karakter utama tidak mampu ditampik.

Di era kependudukan Jepang di Korea Selatan, seorang penipu ulung yang memiliki nama palsu Fujiwara (Ha Jung-woo), merekrut seorang pencopet yang tinggal di rumah penadah sekaligus toko perak, Sook-Hee (Kim Taer-ri). Ia hendak dijadikan pelayan baru yang melayani kebutuhan pribadi Nona Hideko (Kim Min-hee), seorang ahli waris perempuan ‘polos’ yang dipingit oleh pamannya yang cabul, Kouzuki (Jo Jin-woong). Rencana awalnya, Fujiwara akan mempersunting Hideko dan dengan bantuan Sook-Hee, melibas harta warisannya. Tanpa seorang pun duga, konspirasi yang tertata dengan rapi, justru terintervensi urusan hati.

Bukan film Park Chan-wook tentunya apabila tidak menyertakan kekerasan dan skandal. Kendati kali ini kekerasannya tampak minim, porsinya lebih banyak terkait dengan kebanalan skandal seksual. Meski tidak sejauh garis skandal yang ia tarik dalam Oldboy, film yang menggunakan premis hasil adopsi dari novel Fingersmith karya Sarah Waters ini tetap saja menyertakan interaksi yang tabu menjadi bumbu. Meskipun dari segi plot tidak semenarik Oldboy atau Thirst, filmnya yang lain, The Handmaiden tetap menawarkan kebaruan dari penyampaian multiprespektifnya yang berkelindan, saling menutupi satu sama lain, dan membiarkan kita sebagai penyimak menyatukannya menjadi sebuah mozaik yang utuh.

Sebenarnya, struktur narasi yang menggunakan masing-masing perspektif karakter kunci ini bukanlah hal baru. Penggambaran segar kisah cinta sepihak semasa puber yang dilihat dari dua sudut pandang dalam Flipped, misalnya. Ataupun film sealiran arahan David Fincher, Gone Girl. Bedanya, dua film tersebut hanya terpaku oleh perspektif dua karakter utama. Park, dalam film ini, ikut menyertakan sudut pandang ketiga: Fujiwara. Meskipun porsinya kecil – dan subtil – tapi sebagai penyimak kita bisa memahami bagaimana ia mendapatkan posisi yang sedemikian rupa, terbantu juga dengan akting menawan dari Ha Jung-woo. Patut pula untuk diapresiasi, adalah kelengkapan dalam hal desain produksi.

Sekalipun bukan karya yang monumental, setidaknya The Handmaiden kian menyahihkan karakteristik auter dari Park yang istimewa. Ia dengan bernas selalu bisa menyandingkan kekejaman fisik yang vandal dengan skandal binal yang terkadang diselimuti intrik dengan hawa nafsu, atau dalam film ini, nafsu hawa.

The Handmaiden (2016) |Sutradara: Park Chan-wook | Durasi: 144 Menit | Pemeran: Kim Min-hee, Kim Tae-ri, Ha Jung-woo, Jo Jin-woong, Kim Hae-suk, Moon So-ri.

Rating4stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s