Bad Ma Ra Khahad Bord (The Wind Will Carry Us): Menyitir Semilir Syair

bad-ma-ra-khahad-bord

…. and entrust your lips, replete with life’s warmth,
To the touch of my loving lips
The wind will carry us!
The wind will carry us!

–   Forough Farrokhzad

Kembali, saya perlu berulang kali menyaksikan film ini untuk dapat memahami kandungan arti yang ingin disampaikan Kiarostami. Inovasinya dalam membuat film yang berlatar puisi, seperti yang ia lakukan di Taste of Cherry, kembali ia teruskan. Meski kali ini, ia lebih mengelaborasi berkembangnya karakter utama dari kacamata reaksinya sendiri akan suatu situasi baru yang ia alami. Berbekal judul dari puisi yang berjudul sama, Kiarostami betul-betul mengalienasi para penyimak dan dengan alur cerita yang perlahan, satu persatu intensinya – melalui gestur dan dialog karakter utama – ia kuak.

Behzad (Behzad Dorani), nama si karakter utama, mendatangi sebuah desa perbukitan yang masuk ke wilayah suku Kurdi, 700 km dari kota Teheran. Ia, bersama ketiga rekannya, bermaksud untuk mengunjungi seorang wanita uzur dan cacat yang sedang sekarat menuju wafat. Meski seiring waktu, melalui kehendaknya yang perlahan tersibak, justru membuatnya tertahan lebih lama di desa dan menjadikannya seorang penyimak.

Kiarostami seperti menempatkan para penyimak filmnya untuk – entah berempati, atau – memosisikan diri sebagai Behzad. Karakter lain yang ia berikan ruang untuk berdialog – baik dengan atau saat diperhatikan oleh Behzad – hanyalah menjadi lapisan yang membuka pemahaman bagi si penyimak. Pemahaman akan kehidupan di pedesaan yang terasa baru bagi Behzad dan pemahaman akan film secara keseluruhan bagi penyaksama film ini. Karena melalui para karakter itulah, arah bagaimana intensi Behzad – yang menjadi ide cerita film ini – akhirnya terungkap.

Penghalangan yang Elegan

Karakteristik penyimak ini ditunjukkan dalam aspek sinematografi yang didominasi reaction shot, terutama untuk memfasilitasi reaksi Behzad. Bahkan dominasi ini turut mengalienasi kawan-kawannya yang datang bersamanya. Ketiga kawannya tidak pernah sekalipun masuk ke dalam layar saat menjadi lawan bicara. Perawakan ketiganya pun hanya terpampang di salah satu adegan yang diambil dari jauh.

Metode blocking (penghalangan) yang dilakukan Kiarostami terhadap kawan-kawan Behzad merupakan satu dari sekian macam yang ia gunakan di dalam film ini. Berulang kali ia melakukan teknik yang sama dengan metode yang berbeda. Bahkan, metode penghalangan ini tidaklah dilakukan secara harfiah semata, melalui penghalangan tampilnya karakter-karakter di dalam layar. Metode yang sama juga diterapkan dalam kerangka kiasan. Kita, sebagai penyimak, juga terhalang untuk memahami identitas serta intensi yang diinginkan Behzad sebagai tokoh utama.

Kesulitan Behzad dalam menerima panggilan melalui telepon selularnya, membuatnya harus mencari lahan terbuka yang tinggi untuk mendapatkan sinyal. Kiarostami secara elok turut mengiaskan lahan tersebut sebagai simbol masyarakat urban yang berpemikiran terbuka dan berpendidikan tinggi. Di adegan ini, saat berulang kali Behzad menerima panggilan dari seseorang yang bernama Ny. Godarzi, ia juga dipertemukan dengan Yossef, seorang penduduk desa yang bekerja sebagai penggali. Melalui Yossef pula, ia dipertemukan dengan Zeynab untuk meminta susu sapi segar.

Dari sosok ketiganya yang tidak ditunjukkan, justru secara tersirat menunjukkan hal yang tidak dipaparkan oleh Kiarostami. Dari dialog dengan Ny. Godarzi, kita memahami bahwa intensi Behzad dibatasi oleh tenggat waktu. Melalui dialog dengan Yossef, yang menggali untuk memasang kabel penghubung telekomunikasi, kita memahami bahwa Behzad bukanlah seorang insinyur seperti yang disematkan kepadanya sedari awal. Sedangkan saat Behzad menemui Zeynab, ingatannya yang di luar kepala saat menyitir syair, menjadi siratan pesan ketiga. Ini ditambah pula dengan kamera yang sering ia bawa kemana-mana.

Meski demikian, tidak semua karakter pendukung mendapat perlakuan yang sama. Ada beberapa karakter pula yang diberikan ruang lebih dengan ditampilkan dalam layar. Di luar Behzad, Kiarostami turut mengambil reaction shot bagi beberapa karakter yang menunjukkan tingkat kepentingan bagi alur cerita, yaitu Farzad (Farzad Sohrabi), wanita penjual teh, dan guru sekolah Farzad.

Kehidupan, Kematian

Farzad, yang diminta menjadi pemandu lokal di pedesaan bagi rombongan Behzad, menjadi cermin kepolosan dan kesederhanaan interaksi penduduk desa. Sebaliknya, Behzad merupakan representasi bagi masyarakat urban dengan segala pandangannya yang cenderung congkak terhadap kehidupan desa. Sedari awal, rombongan Behzad yang mengaku dan berpura-pura sebagai insinyur telekomunikasi tidak ia tanyai apa sebenarnya itikad kehadiran mereka dan kaitannya dengan keingintahuan mereka akan Ny. Malek, wanita uzur yang sedang sekarat itu. Tak heran, mereka yang menetap di rumah bibi Farzad kemudian kerap dipanggil dengan panggilan insinyur oleh penduduk sekitar – sebagai fait accompli pandangan penduduk desa akan masyarakat urban yang cenderung berpendidikan tinggi. Pandangan arogan Behzad akan penduduk desa pun ditunjukkan melalui keterkejutannya atas Farzad yang mampu melengkapi bait syair yang ia kutip saat menanyakan alasan desa tersebut dinamai Lembah Hitam: “When you’re fated to be black, even holy water cannot whiten you.”

Kiarostami juga menggarisbawahi pandangan feminisme yang diwakili oleh wanita penjual teh. Bahkan memaparkannya dalam tiga dimensi yang dilandasi oleh ketersediaan pilihan bagi wanita. Budaya patriarki yang lekat di kehidupan sosial di Iran, terutama semenjak Revolusi, membuat pandangan Behzad yang heran saat tehnya disuguhi oleh seorang wanita menjadi bisa dimengerti. Pandangan Behzad yang didasari silogisme yang lahir dari pemandangan yang jarang ia temukan di kehidupan urban. Soal budaya patriarki ini, kembali dijustifikasi oleh sergahan sang suami yang menganggap pekerjaan yang dikerjakan oleh istrinya tidak sesulit yang ia kerjakan. Sekalipun untuk pekerjaan ketiga di malam hari – yang melambangkan proses reproduksi – yang ia akui menjadi pekerjaan yang tersulit bagi kaum lelaki – yang diikuti oleh tawa sarkas istrinya.

Pandangan feminisme ini kembali ia sampaikan saat Behzad meminta susu sapi. Menyitir sebuah syair karya Forough Farrokhzad, melalui dialog Behzad kepada gadis pemerah susu, Zeynab, Kiarostami menyampaikan aspirasinya bahwa tingkat pendidikan seseorang – terutama perempuan – tidak menjadi kendala untuk mencapai sesuatu yang diidamkan. Dimensi terakhir, ditunjukkan saat Behzad mengagumi ketangguhan bibi Farzad yang baru saja melahirkan anak kesepuluhnya dan langsung kembali bekerja keesokan harinya.

Tapi, dialektika Behzad dengan guru sekolah Farzad dan seorang dokter kemudianlah yang menjadi jawaban ke mana film ini bermuara, sekaligus menjawab Behzad yang menerka-nerka makna: kehidupan dan kematian. Sang guru mengungkapkan bahwa upacara kematian di Desa Lembah Hitam yang kini telah beralih dari perayaan spiritual yang sahih menjadi sebuah pertunjukan penuh pamrih. Sebuah perangkat bagi kelas pekerja untuk memamerkan pengabdiannya kepada atasan mereka semata-mata untuk menjaga kepastian pekerjaan mereka. Dari sang dokter, dialektikanya bahkan lebih berat. Dalam garis tipis antara menggugat nubuat dengan menakar nikmat selama hayat di dalam jasad, dengan mantap ia kemas argumentasinya soal eksistensialisme dalam bait sajak Omar Khayyam yang berjudul Rubaiyait:

They tell me the other world is as beautiful as a houri from heaven!
Yet I say that the juice of the vine is better.
Prefer the present to those fine promises.
Even a drum sounds melodious from afar.

Bad Ma Ra Khahad Bord (The Wind Will Carry Us) (1999) | Sutradara: Abbas Kiarostami | Durasi: 118 Menit | Pemeran: Behzad Dorani, Noghre Asadi, Roushan Karam Elmi, Bahman Ghobadi, Shahpour Ghobadi, Reihan Heidari, Masood Mansouri, Ali Reza Naderi, Frangis Rahsepar, Masoameh Salimi, Farzad Sohrabi, Lida Soltani

Rating: 4,5stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s