La La Land: Film Klasik untuk Masa Depan

la-la-land

Someone in the crowd will be the one you need to know. Someone who can lift you off the ground. Someone in the crowd will take you where you want to go. Someone in the crowd will make you. Someone in the crowd will take you. Finally off the ground, with only someone ready to be found.

Dalam kamus bahasa, La La Land berarti kota Los Angeles, termasuk Hollywood, beserta gaya hidup orang-orang yang tinggal di dalamnya. La La Land juga merupakan permainan kata yang berarti tempat yang penuh fantasi dan mimpi. Damien Chazelle, sutradara yang baru berusia 31 tahun, mewujudkan impinya untuk membuat film tentang para pemimpi di kota penuh mimpi.

Para pemimpi itu diwakili oleh Mia, seorang aktris muda yang telah enam tahun meramaikan bursa seni peran namun tak kunjung mendapat panggilan, yang dengan kualitas eksepsional diperankan oleh Emma Stone. Ia tanpa sengaja berjumpa dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pemain piano aliran jazz yang baru saja kehilangan bar musik miliknya. Keduanya bertemu dalam momen fana yang penuh pana, mengawali interaksi romansa antara keduanya – serta mimpi keduanya. Nuansa yang penuh warna, dipadu dengan musik yang mengalun dengan mesra dan sesekali penuh rasa gegap gempita, selalu menemani di setiap adegan seakan menjadi karakter ketiga. Karakter ketiga yang ketimbang menjadi perantara, malah menjadi penyekat maya antara keduanya.

Di bawah udara Los Angeles yang terik, lagu pertama yang berjudul Another Day of Sun hadir jadi pemantik. Yang menarik, adalah keputusan Chazelle untuk menggunakan long take sebagai metode sinematografi yang ia gunakan di adegan pembuka yang otentik. Keinginannya untuk membawa film ini menjadi homage bagi film-film musikal yang hadir di era dekade 1950-an, seperti dan terutama Singin’ in the Rain, diakomodasi oleh Linus Sandgren, pengarah fotografi, yang memilih menggunakan kamera Cinemascope 55, kamera yang sering digunakan di era tersebut. Meski tidak digunakan untuk sebagian kecil adegan, yang mengakibatkan banyak adegan panning yang membuat mata pening. Adegan pembuka yang menjadi epitome seni gerak yang dikoregraferi oleh Mandy Moore pun muncul di tiap babak. Tentunya, yang berkulminasi di babak kedua dan yang terakhir – keempat.

Seri bersempalan Ironi

Subjudul Winter yang muncul sesaat setelah akhir lagu di adegan pembuka, adalah jadi salah satu penanda bahwa film ini berstruktur narasi empat babak (four act) – sebagaimana musim di belahan dunia beriklim subtropis pada umumnya. Musim dingin, musim semi, musim panas, dan terakhir musim gugur adalah urutan yang diadopsi dan diaplikasikan dalam film ini. Northrop Frye, dalam bukunya Anatomy of Criticism (1957), mencetuskan Theory of Archetypes yang menjelaskan bahwa keempat musim tersebut merepresentasikan tamsilan atas situasi atau keadaan. Musim dingin yang jadi babak awal film ini, merepresentasikan ironi.

Dalam suatu film yang menggunakan struktur narasi empat babak, adalah sebuah keniscayaan untuk menggunakan babak awalnya sebagai babak perkenalan bagi tokoh protagonisnya. La La Land pun demikian. Perpapasan keduanya yang terjadi semenjak awal ditandai dengan suara klakson oleh Sebastian dan acungan jari tengah oleh Mia, antiklimaks saat mesti diakhiri tatapan penuh melankoli. Ironi.

Di babak kedua, musim semi umpama masa jenaka. Makanya, pertemuan keduanya yang kedua ditandai dengan guyonan sarkas dari Mia. Selanjutnya tentu saat tap dance di bawah lembayung senja, dan di tengah bintang-bintang (artifisial) di langit(-langit Planetarium) dan angkasa. Adegan yang seakan menjawab tanya apabila Petualangan Sherina diperankan remaja atau dewasa sebagai tokoh utama. Kejenakaan ini diakhiri dengan adegan akhir babak kedua yang ditutup dengan iris cut – komponen penyuntingan yang kerap digunakan film komedi bisu dan juga kartun sebagai penanda akhir yang bahagia maupun jenaka.

Narasi yang jenaka ini masih tetap dipertahankan oleh Chazelle di babak ketiga. Babak yang menggunakan musim panas sebagai latarnya, musim yang melambangkan berbunganya karir dan romansa keduanya. Ditandai dengan Mia yang memberanikan diri menulis karangan untuk pentas monolognya dan karir musik Sebastian yang kian menapak dengan bergabungnya ia dengan band The Messengers pimpinan Keith (John Legend). Meski pada akhirnya Mia tak seberhasil Sebastian dan hanya menjadi ‘someone in the crowd’ baginya. Kejadian di babak keempat yang mengawali tragedi – dengan kehadiran musim gugur yang menandai kehadiran konflik – bukan antara mereka, tapi antara mimpi mereka – yang membuat keduanya mesti berkompromi.

la-la-land2

Musik dan Tata Artistik

Semenjak dansa dansi pembuka dimainkan, para penyimak – saya salah satunya – tentu akan terkesima dengan wujud para penari yang dilengkapi dengan busana yang warna warni. Mungkin ekspresinya sama dengan saat Dorothy terdampar di Oz, seperti melihat Technicolor digunakan pertama kali. Secara kasat memang untuk nilai estetika yang dijunjung tinggi, kendati penggunaan warna yang kaya juga mempertimbangkan aspek psikologi.

Nilai estetika ini tampak mewakili kehangatan kisah asmara Mia dan Sebastian yang dilambangkan dengan setelan berwarna biru. Sewarna menandakan perasaan yang sama. Kendati begitu, kehangatan – salah satu dari – keduanya yang kian memudar pun tak luput diwakili oleh warna busana. Ide yang sama juga berlaku bagi warna hijau, warna yang mengasosiasikan bahaya. Warna hijau yang mengoptimalkan keeleganan kulit pucat dan rambut pirang kemerahan Mia saat kencan perdana, pun menjadi latar belakang saat keduanya berargumen murka. Konsep yang sama juga pernah digunakan oleh Hitchcock di Vertigo.

Estetika yang terpancar di layar, juga dengan sempurna didampingi aransemen musik menawan yang dikomandoi Justin Hurwitz. Sebelumnya, saya telah mendengarkan album La La Land sebelum menyaksikan filmnya. Penilaian awal saya, ini bukanlah tipikal musik yang akan lekang oleh zaman, bukan jenis musik yang akan menjadi candu untuk diputar berulang-ulang. Namun, penilaian saya berubah semenjak mendengarkan musik tersebut sebagai satu kesatuan dengan film ini. Justin Hurwitz mengaransemen musik-musik La La Land sepertinya memang bukan sebagai entitas yang independen, berdiri sendiri, seperti Yumeji’s Theme-nya Shigeru Umebayashi dan  Angkor Wat Theme karya Michael Galasso di In The Mood for Love, atau satu album yang koheren seperti dalam film Oldboy dan karya-karya gubahan Ennio Morricone. Tapi karya rancangan Hurwitz tetap menjadi karya yang sifatnya komplementer, mendukung La La Land sebagai film, dan akan menjadi pemantik bagi orang-orang untuk kembali menyaksikan film ini apabila ada yang menyiulkan irama nadanya.

Ode untuk Seni

Kecintaan akan jazz yang melekat di Chazelle dan Hurwitz terpampang jelas semenjak film panjang perdananya, Guy and Madeline on a Park Bench. Memanfaatkan momentum keberhasilan Whiplash, keduanya tetap menjadikan jazz sebagai kerangka karya-karyanya, sekalipun kali ini menjadikan perjuangan para pelaku seni di medan juang bernama Los Angeles sebagai tema. Maka dari itu, lebih dari sekedar metasinema, La La Land adalah ode untuk para pelaku seni, di kota tersebut pada khususnya, dan di seluruh dunia pada umumnya. Para ‘orang gila’ yang nekat mengganti nada meski berujung pemanggilan yang berhujung pemecatan.

Terlepas dari ketertarikan aneh Chazelle akan dibangunnya terusan di Thailand oleh China, maupun promosi implisit kawasan pariwisata berbasis lingkungan hidup milik salah satu konglomerat di Tambling, Indonesia, ia tetap setia menghadirkan akhiran yang hebat. Not a happy ending, but a great ending. La La Land adalah minuman segar yang disajikan dalam cawan menawan untuk menghapus dahaga dalam dunia sinema, dan Chazelle menggenggamnya dengan tangan terangkat sambil bersorak penuh semangat: “Here’s to the fools who dream!”

La La Land (2016) | Sutradara: Damien Chazelle | Durasi: 128 Menit | Pemeran: Ryan Gosling, Emma Stone, Callie Hernandez, Jessica Rothe, Sonoya Mizuno, Rosemarie DeWitt, J.K. Simmons, John Legend

Rating4,5stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s