Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees): Melantun di bawah Zaitun

through-the-olive-trees

Modalitas Hossein dalam merayu Tahereh bukanlah bermodal setara harta, melainkan determinasi yang wujudnya tak kentara.

Mengakhiri petualangannya di Desa Koker, 350 km di sebelah utara kota Teheran, Kiarostami kembali membawa karyanya ke dalam tingkatan berbeda. Sebagai film penutup dari seri Koker Trilogy, Through the Olive Trees, kian menyahihkan kualitasnya dalam mengembangkan cerita dari ide yang sederhana. Kali ini berlatar kejadian selama proses pengambilan gambar filmnya sebelumnya: Life, and Nothing More, tentang perjuangan aktor pendukungnya dalam meraih hati gadis pujaannya yang juga menjadi aktris pendukung di dalamnya.

Hossein (Hossein Rezai), dipilih untuk menggantikan salah satu aktor pendukung film terbaru seorang sutradara yang sebelumnya juga pernah membuat film di desanya (Mohamed Ali Keshavarz). Namun, tanpa ia ketahui sebelumnya, lawan mainnya dalam adegan di film tersebut adalah Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis yang ia ingin nikahi namun keluarganya tidak kunjung merestui. Kesungguhan dan keteguhan Hossein berulang kali teruji, melalui dialognya dengan sang sutradara berusaha memahami, penolakan dari (keluarga) Tahereh yang berulang kali, hingga jawaban yang muncul setelah bukit dan pepohonan zaitun dilalui.

Ada yang berbeda dalam akhiran trilogi bersuasana kawasan desa ini. Walaupun masih mengusung aliran yang sejenis dengan dua film pendahulunya, terdapat diferensiasi yang nampak, bahkan semenjak film dimulai. Tokoh utama muncul memperkenalkan diri dan menyebutkan perannya dalam film ini, yaitu sebagai sutradara. Aktor profesional pertama yang pernah bekerjasama dengan Kiarostami ini telah menentukan atmosfer film melalui monolog tersebut. Meski terasa serupa dengan Close-up, yang bernuansa campuran dokumenter dengan fiksi, atau dokufiksi, bedanya film ini tidak meletakkan genre dokumenter secara utuh – nonfiksi. Justru Kiarostami meletakkannya ke arah fiksi seutuhnya.

Selain itu, unsur metasinema juga tetap ditampilkan dalam film ini. Plot yang menceritakan proses pembuatan film Life and Nothing More, juga turut menampilkan pemain-pemain dari filmnya sebelumnya: Where’s the Friends Home? Ada dialog dengan aktor yang memerankan guru – yang di dunia nyata juga bekerja sebagai guru, dan tentu saja dengan dua karakter utama di film tersebut; Babek Ahmadpoor dan Ahmad Ahmadpoor. Sekaligus mengonfirmasi kondisi keduanya yang menjadi pertanyaan tak terjawab di seri film sebelumnya.

Ikhtisar bahwa film ini adalah film yang menampilkan proses pembuatan film tentang pembuat film yang ingin mengunjungi pekerja dan lokasi film sebelumnya, adalah ciri khas Kiarostami yang akan sulit untuk direplikasi. Karakteristik otentiknya yang melebur antara yang nyata dengan yang maya, kian memantapkan statusnya sebagai legenda.

Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees) (1994) | Sutradara: Abbas Kiarostami | Durasi: 103 Menit | Pemeran: Mohamad Ali Keshavarz, Farhad Kheradmand, Zarifeh Shiva, Hossein Rezai, Tahereh Ladanian, Ahmed Ahmed Poor, Babek Ahmed Poor

Rating4stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s