Ta’m e Guilass (Taste of Cherry): Ironi di Bawah Pohon Ceri

tam-e-guilass

If you look at the four seasons, each season brings fruit. In summer, there’s fruit, in autumn, too. Winter brings different fruit and spring, too. No mother can fill her fridge with such a variety of fruit for her children. No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?

Tidak cukup sekali, tapi butuh dua, tiga kali bagi saya untuk menyaksikan film ini sebelum memahami premis apa yang hendak dikedepankan di dalamnya. Alurnya yang relatif lambat dalam menguak motif tokoh utama menjadi alasan, meski gamblang apa yang ia tuju. Melalui serangkaian dialog – bahkan dialektika – dengan sekelumit pihak yang melambangkan pesan yang tidak terlampau sumir, Kiarostami menghidupkan puisi lirih sekaligus kritik geopolitik di kawasannya dengan pendekatan yang satire. Satire yang dalam narasinya tidak hanya bertaji, tapi juga penuh dengan ironi.

Badii (Homayoun Ershadi), pria paruh baya yang mengelilingi kawasan gunung tandus, mencari orang-orang yang – di pandangannya – membutuhkan uang. Pendekatannya yang terkesan mencurigakan dan kaku, membuat beberapa yang ia dekati menolak preposisinya. Kehendaknya cuma satu: mencari satu orang yang menyerok sekop untuk mengubur jasadnya yang akan mati. Kematian yang akan ia jemput sendiri.

Menyelami film ini pertama kali, saya cukup mengajukan banyak pertanyaan apa yang hendak Kiarostami ajukan dalam karyanya ini. Kawan dialog dan dialektika yang seluruhnya merupakan imigran dari negara-negara tetangga langsung dengan Iran – yang kesemuanya dilanda perang saudara, menjadi benang merah pertama yang membuka pintu pemahaman. Serdadu (Afshin Khorsid Bakhtiari) yang berasal dari Kurdistan, akan kembali ke kampung halamannya setelah lulus pendidikan. Kembalinya tentu dengan satu tujuan: lanjut berperang. Kemudian, ada pula teolog yang sedang melanjutkan pendidikan di Iran (Mir Hossein Noori) yang berasal dari Afghanistan – yang saat itu sedang menghadapi perang saudara. Tentunya juga Bagheri (Abdolrahman Bagheri) yang telah puluhan tahun bermigrasi dari Turki – salah satu negara yang berperang dengan negeri Kurdi.

Satire yang lirih dengan perlahan diarahkan Kiarostami, sambil sesekali menyentil dengan ironi. Serdadu yang ketika kembali ke Kurdistan akan menghadapi pilihan: membunuh atau dibunuh, dihadapkan pada pilihan yang terlalu dini dan melarikan diri saat diberikan instruksi. Teolog dari Afghanistan melemparkan pertanyaan filosofis bercampur ironis tentang bedanya membunuh orang lain dan membunuh diri sendiri. Paman tua Bagheri yang rupanya pernah mengalami hal yang sama dengan Badii, namun ‘terselamatkan’ oleh nikmatnya buah mulberry. Ironi itu juga terpampang dari pertanyaan retoris yang berusaha menggugurkan kehendak Badii, “You want to give up the taste of cherries?”

Aksi lebih berkumandang ketimbang diksi. Badii yang ‘menjawab’ pertanyaan tadi dengan memilih dikubur (secara kebetulan) di bawah pohon ceri. Barangkali jasadnya akan jadi makanan pohon ceri tadi, atau barangkali ia benar-benar akan menjawab apabila ia akan bunuh diri dekat pohon mulberry – serta apabila memiliki anak dan istri. Atau barangkali kehendaknya ini berlatar depresi akibat PTSD. Apapun motifnya, tekad Badii untuk mengakhiri diri sepakat dibulatkan oleh Bagheri.

Ta’m e Guilass (Taste of Cherry) (1997) | Sutradara: Abbas Kiarostami | Durasi: 95 Menit | Pemeran: Homayoun Ershadi, Abdolrahman Bagheri, Afshin Khorshid Bakhtiari, Safar Ali Moradi, Mir Hossein Noori

Rating4stars

Advertisements

One thought on “Ta’m e Guilass (Taste of Cherry): Ironi di Bawah Pohon Ceri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s