Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

and-life-goes-on

Bencana selalu hadir tanpa dinyana, menyematkan duka lara di antara serakan puing yang tersisa. Namun di Koker dan sekitarnya, yang ada justru asa yang terasa.

Gempa bumi yang melanda kawasan Iran bagian utara pada Juni 1990, memakan korban jiwa yang cukup besar. Koker, salah satu desa yang masuk kawasan terkena bencana, yang menjadi latar film yang sang sutradara (Farhad Kheradmand) buat beberapa waktu lalu pun turut terkena. Tanpa kepastian informasi, ia dan anaknya, Puya (Buba Bayour), kembali ke kawasan tersebut lima hari setelah gempa terjadi. Dengan harapan, anak kecil yang menjadi tokoh utamanya tak termasuk salah satu korban.

Lagi-lagi Kiarostami mengajak para penggemarnya untuk terkesima akan karyanya. Mengusung cerita yang terbungkus dalam nuansa metasinema, ia menjadikan dirinya – yang diperankan oleh orang lain tentunya – sebagai tokoh utama. Sepanjang film diputar, terasa sekali seperti dokumenter yang menggambarkan pengalaman Kiarostami dari sudut pandang ketiga. Ditambah dengan latar Provinsi Guilan yang masih menunjukkan sisa-sisa reruntuhan bangunan. Nyatanya, justru narasinya hanya berdasar cerita fiksi.

Perjalanan sang sutradara selama menuju Desa Koker, banyak menemui masyarakat dengan masing-masing perasaan mereka atas bencana ini. Kiarostami menyorotnya dari mulai yang sederhana seperti soal pernikahan bagi mereka yang ditinggal meninggal oleh pasangan masing-masing, hingga yang menjurus pada soal keagamaan yang disampaikan dengan analogi sederhana yang dikemukakan anak kecil. Bagaimana gigitan nyamuk mampu menjadi pemisah takdir kematian bagi kedua saudara kandung yang tidur sekamar.

Arah narasi positif yang dikedepankan Kiarostami tentunya, memiliki harapan untuk memotivasi para penontonnya yang ada di kawasan tersebut. Misalnya, seorang pemuda yang sedang mengatur arah antena untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Saat ditanya, dengan ringan ia menjawab, “What can we do? The World Cup is once every four years, and the earthquake is every forty. Life goes on.” Satu lagi, tentang sepasangan muda yang memutuskan untuk menikah sehari setelah kehilangan 65 orang anggota keluarganya saat gempa. Kisah yang menariknya dielaborasi kemudian di Through the Olive Trees.

Patut menjadi perhatian pula, kendati bencana tersebut menelan korban ratusan ribu jiwa, Kiarostami tidak memberikan kesedihan yang ditinggalkan di panggung utama. Meski sempat disisipkan melalui seorang ibu tua yang kini tinggal sebatang kara semenjak 16 anggota keluarganya wafat, itu saja. Hampir tidak ada ekspresi penuh melankoli di wajah mereka. Ia tidak mendramatisasi bencana.

Meski dipenghujung – melalui long take yang menawan – penonton tidak diberitahukan apakah si sutradara menjumpai tokoh utama dalam filmnya sebelumnya – Where’s the Friend’s Home? Namun, seri kedua dari Koker Trilogy ini mampu menjadi penyemangat bagi para korban gempa, sekaligus memantapkan Kiarostami sebagai ahli dokufiksi.

Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More) (1991) | Sutradara: Abbas Kiarostami | Durasi: 92 Menit | Pemeran: Farhad Kheradmand, Buba Bayour, Hocine Rifahi, Ferhendeh Feydi, Mahrem Feydi, Bahrovz Aydini, Ziya Babai, Mohamed Hocinerouhi, Hocine Khadem, Maassouma Berouana, Mohammad Reza Parvaneh, Chahrbanov Chefahi, Youssef Branki, Chahine Ayzen, Mohamed Bezdani

Rating: 4stars

Advertisements

One thought on “Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s