Bad Ma Ra Khahad Bord (The Wind Will Carry Us): Menyitir Semilir Syair

bad-ma-ra-khahad-bord

…. and entrust your lips, replete with life’s warmth,
To the touch of my loving lips
The wind will carry us!
The wind will carry us!

–   Forough Farrokhzad

Kembali, saya perlu berulang kali menyaksikan film ini untuk dapat memahami kandungan arti yang ingin disampaikan Kiarostami. Inovasinya dalam membuat film yang berlatar puisi, seperti yang ia lakukan di Taste of Cherry, kembali ia teruskan. Meski kali ini, ia lebih mengelaborasi berkembangnya karakter utama dari kacamata reaksinya sendiri akan suatu situasi baru yang ia alami. Berbekal judul dari puisi yang berjudul sama, Kiarostami betul-betul mengalienasi para penyimak dan dengan alur cerita yang perlahan, satu persatu intensinya – melalui gestur dan dialog karakter utama – ia kuak.

Behzad (Behzad Dorani), nama si karakter utama, mendatangi sebuah desa perbukitan yang masuk ke wilayah suku Kurdi, 700 km dari kota Teheran. Ia, bersama ketiga rekannya, bermaksud untuk mengunjungi seorang wanita uzur dan cacat yang sedang sekarat menuju wafat. Meski seiring waktu, melalui kehendaknya yang perlahan tersibak, justru membuatnya tertahan lebih lama di desa dan menjadikannya seorang penyimak.

Kiarostami seperti menempatkan para penyimak filmnya untuk – entah berempati, atau – memosisikan diri sebagai Behzad. Karakter lain yang ia berikan ruang untuk berdialog – baik dengan atau saat diperhatikan oleh Behzad – hanyalah menjadi lapisan yang membuka pemahaman bagi si penyimak. Pemahaman akan kehidupan di pedesaan yang terasa baru bagi Behzad dan pemahaman akan film secara keseluruhan bagi penyaksama film ini. Karena melalui para karakter itulah, arah bagaimana intensi Behzad – yang menjadi ide cerita film ini – akhirnya terungkap.

Continue reading

La La Land: Film Klasik untuk Masa Depan

la-la-land

Someone in the crowd will be the one you need to know. Someone who can lift you off the ground. Someone in the crowd will take you where you want to go. Someone in the crowd will make you. Someone in the crowd will take you. Finally off the ground, with only someone ready to be found.

Dalam kamus bahasa, La La Land berarti kota Los Angeles, termasuk Hollywood, beserta gaya hidup orang-orang yang tinggal di dalamnya. La La Land juga merupakan permainan kata yang berarti tempat yang penuh fantasi dan mimpi. Damien Chazelle, sutradara yang baru berusia 31 tahun, mewujudkan impinya untuk membuat film tentang para pemimpi di kota penuh mimpi.

Para pemimpi itu diwakili oleh Mia, seorang aktris muda yang telah enam tahun meramaikan bursa seni peran namun tak kunjung mendapat panggilan, yang dengan kualitas eksepsional diperankan oleh Emma Stone. Ia tanpa sengaja berjumpa dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pemain piano aliran jazz yang baru saja kehilangan bar musik miliknya. Keduanya bertemu dalam momen fana yang penuh pana, mengawali interaksi romansa antara keduanya – serta mimpi keduanya. Nuansa yang penuh warna, dipadu dengan musik yang mengalun dengan mesra dan sesekali penuh rasa gegap gempita, selalu menemani di setiap adegan seakan menjadi karakter ketiga. Karakter ketiga yang ketimbang menjadi perantara, malah menjadi penyekat maya antara keduanya.

Continue reading

Arrival: Iba seorang Ibu

arrival

Language is the foundation of civilization. It is the glue that holds the people together. It is the first weapon drawn in a conflict.

Bahasa adalah senjata bermata dua. Arrival, yang menceritakan tentang alien yang menginvasi tanpa permisi dan basa-basi, menekankan pada kalimat tersebut. Menjadi film panjangnya yang kedelapan, Villeneuve membawa tema klise dari sudut pandang yang berbeda. Ia tidak berfokus kepada alien sebagai entitas asing yang mengancam eksistensi penduduk asli, tapi menjadi karakter pendukung dalam plot yang sali.

Melalui sudut pandang Louise Banks (Amy Adams), seorang ahli multibahasa yang bekerja sebagai dosen, film ini bermula. Bersama dengan Ian Donnelly (Jeremy Renner), seorang ilmuwan, keduanya menjadi pasangan akademisi yang menapaki interaksi pertama antara manusia dengan makhluk luar angkasa. Makhluk luar angkasa yang dari hasil interaksi ternyata memiliki julukan heptapods, hadir dengan kapal berbentuk oval yang mengapung di wilayah Montana, Amerika Serikat – satu dari dua belas kapal alien yang memasuki atmosfer bumi. Keduanya hadir untuk membantu menjawab pertanyaan tentang intensi yang melandasi: invasi atau sekedar relaksasi.

Continue reading

Ta’m e Guilass (Taste of Cherry): Ironi di Bawah Pohon Ceri

tam-e-guilass

If you look at the four seasons, each season brings fruit. In summer, there’s fruit, in autumn, too. Winter brings different fruit and spring, too. No mother can fill her fridge with such a variety of fruit for her children. No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?

Tidak cukup sekali, tapi butuh dua, tiga kali bagi saya untuk menyaksikan film ini sebelum memahami premis apa yang hendak dikedepankan di dalamnya. Alurnya yang relatif lambat dalam menguak motif tokoh utama menjadi alasan, meski gamblang apa yang ia tuju. Melalui serangkaian dialog – bahkan dialektika – dengan sekelumit pihak yang melambangkan pesan yang tidak terlampau sumir, Kiarostami menghidupkan puisi lirih sekaligus kritik geopolitik di kawasannya dengan pendekatan yang satire. Satire yang dalam narasinya tidak hanya bertaji, tapi juga penuh dengan ironi.

Badii (Homayoun Ershadi), pria paruh baya yang mengelilingi kawasan gunung tandus, mencari orang-orang yang – di pandangannya – membutuhkan uang. Pendekatannya yang terkesan mencurigakan dan kaku, membuat beberapa yang ia dekati menolak preposisinya. Kehendaknya cuma satu: mencari satu orang yang menyerok sekop untuk mengubur jasadnya yang akan mati. Kematian yang akan ia jemput sendiri.

Continue reading

Zire Darakhatan Zeyton (Through the Olive Trees): Melantun di bawah Zaitun

through-the-olive-trees

Modalitas Hossein dalam merayu Tahereh bukanlah bermodal setara harta, melainkan determinasi yang wujudnya tak kentara.

Mengakhiri petualangannya di Desa Koker, 350 km di sebelah utara kota Teheran, Kiarostami kembali membawa karyanya ke dalam tingkatan berbeda. Sebagai film penutup dari seri Koker Trilogy, Through the Olive Trees, kian menyahihkan kualitasnya dalam mengembangkan cerita dari ide yang sederhana. Kali ini berlatar kejadian selama proses pengambilan gambar filmnya sebelumnya: Life, and Nothing More, tentang perjuangan aktor pendukungnya dalam meraih hati gadis pujaannya yang juga menjadi aktris pendukung di dalamnya.

Hossein (Hossein Rezai), dipilih untuk menggantikan salah satu aktor pendukung film terbaru seorang sutradara yang sebelumnya juga pernah membuat film di desanya (Mohamed Ali Keshavarz). Namun, tanpa ia ketahui sebelumnya, lawan mainnya dalam adegan di film tersebut adalah Tahereh (Tahereh Ladanian), gadis yang ia ingin nikahi namun keluarganya tidak kunjung merestui. Kesungguhan dan keteguhan Hossein berulang kali teruji, melalui dialognya dengan sang sutradara berusaha memahami, penolakan dari (keluarga) Tahereh yang berulang kali, hingga jawaban yang muncul setelah bukit dan pepohonan zaitun dilalui.

Continue reading

Zendegi Va Digar Hich (Life, and Nothing More): Asa Pascagempa

and-life-goes-on

Bencana selalu hadir tanpa dinyana, menyematkan duka lara di antara serakan puing yang tersisa. Namun di Koker dan sekitarnya, yang ada justru asa yang terasa.

Gempa bumi yang melanda kawasan Iran bagian utara pada Juni 1990, memakan korban jiwa yang cukup besar. Koker, salah satu desa yang masuk kawasan terkena bencana, yang menjadi latar film yang sang sutradara (Farhad Kheradmand) buat beberapa waktu lalu pun turut terkena. Tanpa kepastian informasi, ia dan anaknya, Puya (Buba Bayour), kembali ke kawasan tersebut lima hari setelah gempa terjadi. Dengan harapan, anak kecil yang menjadi tokoh utamanya tak termasuk salah satu korban.

Continue reading