Nema-ye Nazdik (Close-Up): Peran Menawan Hossain Sabzian

closeup

“When spite comes along, art dons a veil”

Seni akan bersembunyi seiring hadirnya dengki, ucap Hossain Sabzian saat membela diri. Kejadian yang mustahil dapat diulangi, dan Kiarostami menemukannya dengan jeli.

Hossain Sabzian adalah seorang duda beranak dua yang bekerja di pabrik percetakan dengan pendapatan pas-pasan. Bahkan ia bercerai karena itu yang menjadi alasan. Lebih dari itu, ia adalah seorang pencinta sinema. Baginya, film adalah representasi bagi perjuangan masyarakat yang satu strata sosial dengannya. Saat membaca buku naskah film favoritnya, The Cyclist, ia bertemu dengan Nyonya Ahankhah, yang mengiranya sebagai Mohsein Makhmalbaf, sutradara buku yang ia baca. Menganggap itu sebagai kesempatan untuk bermain peran, ia lantas lanjut berpura-pura.

Film diawali pelaporan kepada polisi melalui wartawan Majalah Shorush, Hossain Farazmand, oleh keluarga Ahankhah. Mereka menganggap Sabzian sebagai penipu yang ingin memanfaatkan kelengahan mereka untuk mencuri. Dalihnya, Sabzian menganggap kepura-puraannya sebagai Makhmalbaf adalah bagian dari seni peran semata. Seperti ucapan Tolstoy yang Sabzian kutip saat sidang, art is the inner experience cultivated by the artist and conveyed to his audience, ia merasa perasaan senang, kesulitan, serta perjuangan yang ia rasakan serta kesukaannya akan seni peran yang ia sajikan kepada para penyimaknya – keluarga Ahankhah – adalah seni itu sendiri. Maka saat ditanya oleh hakim, “why did you pretend to be a director instead of an actor?”, ia menjawab “playing the part of a director is a performance in itself”.

Film ini dari segi ide adalah sebuah mahakarya elegan, one-of a kind, yang sulit bahkan mustahil untuk direplikasi. Kemampuan untuk mengemas kejadian yang merepresentasikan gejala sosial dalam satu film yang dikombinasikan dalam drama, biografi, sekaligus dokumenter, adalah sebuah keputusan yang brilian. Ditambah dengan tokoh utama yang mencintai dan kerap mereferensikan film dalam dialognya yang cerdas, menambah keistimewaan film yang juga tergolong metasinema ini. Kiarostami menangkapnya dengan amat jeli dan mengolahnya dengan mumpuni.

Selain itu, dalam film ini Kiarostami juga tak luput – secara tersirat tentunya, melalui dialog masing-masing karakter yang tidak bernaskah – menghadirkan isu sosial di Iran pascarevolusi. Bagaimana seorang dari strata sosial menengah ke atas yang berpendidikan tinggi semacam anak-anak keluarga Ahankhah saja memiliki pekerjaan di luar kompetensi pendidikan, bahkan ada yang menganggur. Apalagi untuk strata sosial menengah ke bawah seperti Sabzian? Sensor film pun menjadi salah satu isu yang muncul.

Sebagaimana unsur dokumenter pada umumnya, seluruh pemain dalam film ini diperankan oleh masing-masing pihak yang bersangkutan. Mulai dari Sabzian, keluarga Ahankhah, hakim, bahkan sampai supir taksi dan petugas yang menemani wartawan Farazmand untuk menangkap Sabzian pun ikut serta. Tapi yang paling berkesan tentu saat Kiarostami datang bertatap muka langsung dengan Sabzian di penjara dan saat sutradara favoritnya, Makhmalbaf, menghampiri saat ia terbebas dari segala tuntutan serta menemaninya ke pemukiman Ahankhah di akhir cerita. Meski dari segi penampilan masih ada beberapa kekurangan, seperti mikrofon yang beberapa kali masuk ke layar, serta kaidah sinematografinya tidak rapi tertata.

Tanpa disangka, kecintaan Hossain Sabzian kepada sinema dan seni peran – bahkan ia menelurkan satu naskah berjudul The House of The Spider dan satu ide film lainnya saat masih berpura-pura menjadi Makhmalbaf – justru menjadi nyata melalui kejadian ini. Kejadian yang berhasil ditangkap oleh sutradara yang mampu memotret pergolakan sosial, sebagaimana yang Sabzian yakini.

Nema-ye Nazdik (Close-Up) (1990) | Sutradara: Abbas Kiarostami | Durasi: 98 Menit | Pemeran: Hossain Sabzian, Mohsen Makhmalbaf, Abolfazl Ahankhah, Mehrdad Ahankhah, Monoochehr Ahankhah, Mahrokh Ahankhah, Nayer Mohseni Zonoozi, Hossain Farazmand, Hooshang Shamaei, Mohammad Ali Barrati, Davood Goodarzi, Haj Ali Reza Ahmadi

Rating: 4,5stars

Advertisements

One thought on “Nema-ye Nazdik (Close-Up): Peran Menawan Hossain Sabzian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s