Nema-ye Nazdik (Close-Up): Peran Menawan Hossain Sabzian

closeup

“When spite comes along, art dons a veil”

Seni akan bersembunyi seiring hadirnya dengki, ucap Hossain Sabzian saat membela diri. Kejadian yang mustahil dapat diulangi, dan Kiarostami menemukannya dengan jeli.

Hossain Sabzian adalah seorang duda beranak dua yang bekerja di pabrik percetakan dengan pendapatan pas-pasan. Bahkan ia bercerai karena itu yang menjadi alasan. Lebih dari itu, ia adalah seorang pencinta sinema. Baginya, film adalah representasi bagi perjuangan masyarakat yang satu strata sosial dengannya. Saat membaca buku naskah film favoritnya, The Cyclist, ia bertemu dengan Nyonya Ahankhah, yang mengiranya sebagai Mohsein Makhmalbaf, sutradara buku yang ia baca. Menganggap itu sebagai kesempatan untuk bermain peran, ia lantas lanjut berpura-pura.

Continue reading

Advertisements

Khane-ye Doust Kodjast? (Where is the Friend’s Home?): Dimana Rumah Reza?

where-is-the-friends-home

Sewaktu kesempatan terakhir yang diberikan kepada kawannya terancam mengganjal, ditambah kejadian yang membuat buku kawannya tertinggal, Ahmad mesti berkejaran dengan waktu mencari rumah kawannya meski berpegal dan bersengal.

Berlatar wilayah pedesaan Koker yang berkontur bukit, Khane-ye Doust Kodjast menjadi karya Kiarostami yang menandai kembalinya ia semenjak vakum selama sedekade. Film yang sekaligus menjadi kerjasama keempatnya dengan Kanoon, ini kembali menyorot anak-anak sebagai karakter utamanya. Lagi, penceritaan yang sederhana mampu disuguhi Kiarostami tanpa menanggalkan pesan moral sekaligus menjejalkan ihwal lain yang dianggap substansial.

Alkisah, Ahmed (Babek Ahmed Poor), tanpa sengaja membawa buku pekerjaan rumah (PR) yang sampulnya sama dengan milik kawannya, Reza Nematzadeh (Ahmed Ahmed Poor). Sementara Reza terancam dikeluarkan dari sekolah jika kembali tidak mengerjakan PR-nya di buku tersebut. Posisi Ahmed kian dilematis ketika ibundanya (Kheda Barech Defai) tidak lantas mengizinkan ia untuk mengembalikan buku tersebut ke Reza. Terlebih, tempat tinggal Ahmed dan Reza yang berjauhan karena berbeda desa, menjadi alasan tambahan bagi sang ibunda.

Continue reading

Gozaresh (The Report): Drama Domestik Penuh Konflik

gozaresh1

Menjadi film pertamanya yang bukan bagian dari produksi bersama Kanoon, Gozaresh menyorot persoalan rumah tangga yang dialami oleh pasangan kelas menengah moderat di Iran. Drama domestik yang semarak dengan situasi zaman, kendati tidak dipoles dengan alur yang meyakinkan.

Mamad (Kurosh Afsharpanah), adalah seorang petugas pajak sekaligus suami yang tidak setia bagi Shoreh (Shohreh Aghdashloo). Kondisi rumah tangga yang cenderung tidak stabil berkat kecurigaan sang istri akan kehidupan malam Mamad, membuat keduanya sering berselisih. Persoalan eksternal seperti tuduhan kepada Mamad akan penerimaan suap, ultimatum sewa apertemen yang kian mendekat, menambah tekanan bagi keduanya. Tekanan bertubi-tubi yang menumpuk seakan menunggu momentum untuk bereksplosi. Dan itu terjadi.

Continue reading

Lebassi Baraye Arossi (A Wedding Suit): Lambang Kelas dalam Setelan Jas

wedding-suit

Dinamika yang terjadi pada usia pra-remaja adalah salah satu momen yang berkesan dalam kehidupan. Kiarostami mengemasnya dalam kerangka kelas pekerja Iran di dekade 1970-an.

Ini adalah film ketiga Kiarostami yang merupakan buah kerjasama dengan Institute for the Intellectual Development of Children and Young Adults (IIDCYA) yang biasa disebut dengan Kanoon. Kendati begitu, nilai pendidikan yang lekat di dua film sebelumnya justru tidak terasa dominan dalam film ini. Pun, kesan yang sama terjadi pada pesan moral yang tidak terpampang gamblang.

Adalah Mamad (Mohammad Fassih), pemuda tanggung yang magang di tempat makan di salah satu kompleks sandang lokal di daerah urban Iran, berteman dengan dua pemuda lainnya, Hossein (Mehdi Nekoueï), yang magang di tempat garmen, dan Ali (Massoud Zand), yang magang di tempat penjahit jas. Mamad merupakan karakter yang keras, hobi berkelahi, bahkan sesekali kerap berbohong, Bahkan, ia disebut sebagai seorang penggertak yang intimidatif oleh Hossein, yang kerap jadi korbannya. Singkat cerita, keduanya hendak meminjam jas yang baru saja dipesan di tempat magang Ali. Ali yang enggan meminjamkan ke Mamad, hanya mengiyakan keinginan Hossein untuk meminjam, tanpa mengetahui gertakan dari Mamad ke Hossein di belakangnya.

Continue reading

Mossafer (The Traveller): Menyentil Si Degil

mosafer1

Kembali menjadikan anak lelaki yang menjelang remaja sebagai tokoh utama, Kiarostami kali ini sedikit mengalihkan fokusnya. Jika pada Tadjrebeh ia memotret polah dan reaksi tokoh utama atas pengaruh dan tekanan di sekitarnya, kali ini ia menjangkau reaksi – serta konsekuensi – dari aksi Qassem (Hassan Darabi). Tentunya aksi yang penuh dengan unsur kenakalan dan kebanalan.

Syahdan, Qassem, seorang anak lelaki yang hobi bermain sepakbola sampai-sampai berulangkali bermasalah dengan sekolah dan keluarganya. Suatu saat, ia yang tinggal jauh dari ibukota Iran ini hendak menyaksikan langsung pertandingan sepakbola tim nasionalnya yang akan bertanding dalam kurun waktu dua hari. Menghalalkan segala cara sekalipun ia tempuh demi menyatakan kehendaknya. Dari mencuri, berbohong, menipu, hingga menilap ia lakukan. Kelakuan nekatnya ini bukan tanpa taruhan. Berkurangnya waktu belajar sebelum ujian serta kepercayaan orang tua dan kawan-kawan satu tim sepakbolanya bahkan rela ia jadikan jaminan.

Continue reading

Tadjrebeh (The Experience): Pengalaman Pertama Kiarostami

experience-aka-tadjrebeh

Sebagai debut film feature dari Kiarostami, Tadjrebeh atau The Experience sedikit berbeda dari dua film pendek yang mengawali karirnya sebagai sutradara. Jika kedua film pendeknya memusatkan anak-anak sebagai karakter utama, film ini menggeserkan fokus ke arah remaja. Dalam durasi kurang dari sejam, Kiarostami menginisiasi ciri khasnya sebagai sutradara yang amat terpengaruh aliran nouvelle vague Prancis secara tajam.

Dalam film ini, Mamad (Hossein Yarmohammadi), adalah seorang remaja lelaki yang sedang magang di sebuah studio foto – yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Kenakalan konyolnya berujung pada terusirnya ia sehingga mesti tinggal untuk sementara waktu di rumah kakaknya. Melakukan komuter justru membawanya pada perjumpaan dengan seorang gadis. Gadis yang menjadi objek sasaran di tengah keterkungkungan yang ia alami, baik dari kekolotan atasan maupun dari sanak famili.

Continue reading