Krisha: Ada Apa dengan Krisha?

krisha

Tanpa bermaksud berkelakar, judul di atas memang menjadi pertanyaan yang pertama kali hinggap semenjak menit pertama film ini diputar. Dibangun dengan atmosfer musik latar yang mencekam, perlahan sesosok wanita tua berambut perak muncul dengan tatapan mendalam yang menghadirkan tanya terpendam. Ada apa dengan seorang wanita paruh baya yang merusak layar keempat dengan tatapan biru safir matanya?

Perlahan tapi pasti pertanyaan itu mulai terjawab. Berlatar nuansa berkumpulnya keluarga saat hari Thanksgiving, Krisha – nama wanita paruh baya tersebut – adalah anggota keluarga yang telah lama terasing. Sengaja ataupun tidak, rasa asing itu secara gamblang ditunjukkan dengan kecanggungan sepihak yang ditunjukkan para karakter lain. Cara pandang dan perlakuan anggota keluarganya terhadapnya ibarat memperlakukan bom waktu. Telaten dan penuh kehati-hatian. Seakaan takut ia mendadak meledak.

Disajikan dengan alur tempo yang maju mundur tidak teratur, upaya rekonsiliasi Krisha (Krisha Fairchild) terasa seperti meniti di atas temali. Rentan. Bagaimana awal yang menjanjikan, perlahan bermuara pada kegagalan. Suasana akrab ia dengan iparnya, reuni dengan anak kandungnya yang ia tinggalkan, serta sambutan sopan nan kaku dengan keluarga yang hadir, hanya menunggu akhir ayunan detik mencapai nadir.

Bermain dengan Aspek Rasio

Sebagai debut film panjang perdana Trey Edward Schults sebagai sutradara, ia banyak menggunakan aktor minim pengalaman dalam film ini, termasuk ia sendiri. Tak heran untuk mempermudah adaptasi, mayoritas nama karakter menggunakan nama depan asli. Pengalamannya sebagai staf di Midnight Special (Jeff Nichols) dan juga Tree of Life dan Voyage of Time: Life’s Journey (Terrence Malick) sepertinya memberikannya pengaruh jika memperhatikan beberapa detil pengambilan gambar dan beberapa adegan yang tersebar.

Namun yang menjadi karakteristik menonjol adalah permainannya akan aspek rasio. Seperti halnya The Grand Budapest Hotel, ada tiga macam rasio yang digunakan. Demi menangkap keterperangkapan jiwa Krisha, aspek rasio berbentuk persegi (1:1) diterapkan. Ini serupa dengan yang diterapkan Xavier Dolan di Mommy, yang jika disejajarkan keduanya juga sama-sama sosok ibu yang kebingungan dalam menghadapi anak lelakinya. Aspek lain yang meski kesannya hanya sekedar gimmick adalah saat kemabukan Krisha mengubah latar menjadi sinematik. Ada pula satu teknik cantik yang diperagakan dalam bentuk gerakan lateral yang memutar.

Meski secara keseluruhan plotnya terasa seperti compang-camping dan inkonklusif, memang itu yang sepertinya ditargetkan sang sutradara. Diakhiri dengan tatap penuh harap dan ratap, ekspresi Krisha membujuk kita untuk tidak memihak ataupun menebak. Sehingga pertanyaan di atas menjadi mengendap sekaligus dengan sendirinya terjawab.

Rating: 3,5stars

Krisha (2015) | Sutradara: Trey Edward Schults | Durasi: 83 Menit | Pemeran: Krisha Fairchild, Trey Edward Shults, Olivia Grace Applegate, Alex Dobrenko, Victoria Fairchild, Bill Wise

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s