Chungking Express: Jenakanya Rasa Nelangsa

Chungking Express GIF_3
He Qiwu (Polisi 223) dalam tangkapan efek step printing a la Wong dan Doyle

Saat menyaksikan sepuluh menit pertama Chungking Express, saya berulang kali terpingkal-pingkal dibuatnya. Jika mengetahui bahwa pada dasarnya film ini bertemakan kegagalan romansa dan bagaimana menghadapinya, tentu asumsi awal adalah film yang didominasi dengan suasana nelangsa. Tapi Wong Kar-Wai justru menyampaikannya dengan gaya penyampaian yang jenaka. Dua hal yang jarang disandingkan dengan eksekusi yang tanpa cela.

Mengusung struktur narasi komposit, Chungking Express terdiri atas dua kisah yang berdiri sendiri. Pada kisah pertama, He Qiwu (Takeshi Kaneshiro), seorang Polisi bernomor kode 223, belum lama ini ditinggalkan kekasihnya. Hal serupa yang dirasakan Polisi 633 (Tony Leung) di kisah selanjutnya. Diiringi cara-cara unik dalam menampik kenyataan yang dialami, keduanya mengalami perubahan setelah masing-masing wanita hadir di kehidupan mereka. Perpapasan Polisi 223 dengan wanita berwig pirang (Brigitte Lin), yang ternyata seorang penyelundup narkotika, membawanya pada hal yang tidak pernah ia lakukan dan rasakan selama berhubungan dengan mantan kekasihnya. Tak berbeda halnya dengan Polisi 633 yang tak sadar apabila apartemennya kerap disusupi wanita penjaga kios makanan yang sering ia jumpai, Faye (Faye Wong).

Pasar sebagai Latar

Berangkat dari latar belakang kedua karakter utama, ada kesan film ini seperti digiring ke arah film noir, apalagi disertai pula dengan voiceover dari karakter utamanya. Kendati demikian, siapa sangka justru film ini malah bernuansa drama komedi romansa. Unsur komedi sudah terasa semenjak seperempat bagian film berdurasi 104 menit ini dari dagelan slapstick yang berulang kali ditampilkan imigran India yang digunakan wanita berwig pirang sebagai penyelundup.

Tak hanya dari gestur, kejenakaan juga datang dari tingkah polah karakter dalam menampik kenyataan. Intensitas Polisi 223 untuk berlari kian meningkat dengan alasan agar cairan yang ada di tubuhnya tidak keluar melalui mata. Tekadnya untuk menanti mantan kekasihnya kembali dengan anggapan bahwa keputusan sang mantan hanyalah candaan 1 April belaka, ia tandai dengan membeli buah favorit sang mantan setiap harinya dengan tanggal kadaluarsa yang sama. Atau Polisi 633 yang seperti diliputi gejala skizofrenia dengan berbicara dengan objek mati di apartemennya. Semuanya dihadirkan Wong, effortlessly – tanpa ada tendensi keterpaksaan maupun kesukaran.

Meski demikian, film ini tidak hanya berbicara seluk-beluk reparasi – pascapatah – hati. Ia juga berbicara – secara implisit – tentang lokasi pasar sebagai wadah berinteraksinya penduduk lokal Hong Kong serta imigran. Baik imigran yang berasal dari India, Inggris, ataupun dari Taiwan. Secara eksplisit sekaligus harfiah dalam struktur narasi film komposit, hal tersebut diwakili keberadaan kios makanan Midnight Express sebagai elemen penyatu dan penghubung antara dua kisah berbeda tadi. Struktur serupa dengan yang ditampilkan Wong pada film sebelumnya, Days of Being Wild.

Keserupaan yang juga turut hadir dari sisi sinematografi yang didominasi oleh peran Christopher Doyle. Aksen khasnya dalam penggunaan efek step printing tetap dihadirkan dalam film ini. Bersama pula dengan ruang-ruang sempit, gelap, serta penggunaan cermin sebagai unsur tambahan. Bedanya, kali ini Chungking Express lebih didominasi cerahnya cahaya, menunjukkan bahwasanya film ini mengedepankan intonasi yang ceria.

Rasanya, tidak akan cukup apabila menyaksikan film ini hanya dengan satu dua kali saja. Banyaknya informasi yang secara subtil dan tanpa sadar ditebar di beberapa adegan oleh Wong menjadi satu alasan. Hubungan paralelnya dengan filmnya selanjutnya, Fallen Angels, menjadi alasan lain. Namun pada dasarnya karena Chungking Express memang film yang tidak akan surut nilai kenikmatannya meskipun disaksikan berulang kali. Kejenakaan yang membungkus kesedihan yang ditampilkan film tersebut, anehnya terasa universal. Maka tak heran dan sebuah jaminan apabila film ini membuat kita terpingkal.

Rating: 4,5stars

Chungking Express (1996) | Sutradara: Wong Kar-Wai | Durasi: 104 Menit | Pemeran:Takeshi Kaneshiro, Brigitte Lin, Tony Leung, Faye Wang, Valerie Chow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s