In the Mood for Love: Kisah Romantis yang Platonis

vlcsnap-error030

Nasib kerap menjadi rambu dalam perjalanan kehidupan. Bukan hal yang mustahil bagi insan yang melaju di jalurnya masing-masing untuk saling berpapasan. Sekelebat. Tidak melenggang dalam kelanggengan. Untuk kemudian kembali menderu hingga membiru.

Asimtot. Kata itulah yang tepat mendeskripsikan kisah platonis di dalam In the Mood for Love. Karakter utamanya, Chow Mo-Wan (Tony Leung), adalah seorang penulis yang bekerja di perusahaan surat kabar harian di Hong Kong. Berlatar paruh awal dekade 1960-an, saat itu adalah hal yang lumrah untuk menyewa kamar di apartemen yang dimiliki pasangan yang sudah senior. Ia kemudian berjumpa dan bertetangga dengan Mrs. Chan (Maggie Cheung), seorang sekretaris di perusahaan pelayaran yang juga menyewa kamar bersama suaminya. Nasib mempertemukan keduanya, kesamaan nasib kian mendekatkan keduanya.

Terbui dan Terkelabui

Sebagai sekuel dari trilogi Chow Mo-Wan, In the Mood for Love melanjutkan unsur composite dalam tiga film selayaknya sebuah film seutuhnya. Memandangnya dari konsep Segitiga Freytag, film ini adalah klimaks kisah cinta berliku yang terjadi dalam dan/atau di sekitar kehidupan karakter Chow Mo-Wan. Hal ini bisa disadari baik secara gamblang dari identitas khas (auter) sang sutradara, maupun dari kesinambungan karakter. Selain Chow Mo-Wan karakter yang ada di prekuel, Days of Being Wild, So Li Zhen, kembali muncul dengan sebutan Mrs. Chan.

Dipadu dengan ritme yang perlahan, keduanya mulai menguak keganjilan dibalik jarang munculnya masing-masing pasangan. Petunjuk-petunjuk yang terserak mereka pungut dan satukan seperti serpihan mozaik. Mulai dari kesamaan pakaian yang dihadiahkan masing-masing pasangan hingga lembur berlumur dusta. Seperti halnya serpihan mozaik pula, keduanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Hanya saja, keduanya sepakat untuk merekatkan kedekatan itu tanpa sekat. Menampik rasa tertarik, tak seperti yang dijalani pasangan masing-masing. Tanpa menduga suatu saat, akan ada hasrat yang tertambat.

Narasi percintaan dua karakter ini digambarkan Wong Kar-Wai dengan sangat apik. Sisi sinematografi didominasi dengan elemen pembingkaian kedua karakter yang menunjukkan betapa keduanya terpenjara oleh ikatan komitmen semu dan – ke depannya – persepsi orang lain akan kedekatan mereka. Bingkai yang dirangkai dengan pemilihan lokasi yang relatif sempit, melambangkan keadaan yang seakan menghimpit nan pahit. Keberadaan teknik penghalangan digunakan dengan itikad terpusatnya perhatian pada hanya kedua karakter. Penghalangan dilakukan khususnya terhadap kedua pasangan masing-masing. Meskipun digunakan juga pada adegan-adegan yang berfokus pada kedua karakter utama, keberadaan cermin kerap menisbikan kepalingan salah satu dari mereka.

Bingkai memang menjadi perlambang keterkungkungan hubungan keduanya. Pun, bingkai itu sendiri sekaligus menjelma menjadi penjerat riwayat di mana abadinya kisah romantis platonis itu tersemat.

Rating: 5stars

Days of Being Wild (2000) | Sutradara: Wong Kar-Wai | Durasi: 95 Menit | Pemeran: Tony Leung, Maggie Cheung, Rebecca Pan.

Advertisements

One thought on “In the Mood for Love: Kisah Romantis yang Platonis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s