Days of Being Wild: Serangkai Kisah Kasih Tak Sampai

vlcsnap-error655.png

Dalam upaya menuju sesuatu yang dikejar, terkadang kita acuh akan apa yang terjadi di sekitar. Tenggelam dalam fokus hingga ego menjadi sentral dan menganggap faktor lain seolah residual.

Dalam Days of Being Wild, keterpusatan ego berada pada karakter Yuddy (Leslie Chung), seorang playboy pasif agresif yang karakteristiknya berada di garis tipis antara angkuh dan acuh. Interaksinya dengan dua wanita sebaya, So Li Zhen (Maggie Cheung), seorang penjual tiket di stadion sepakbola dan Mimi (Carina Lau), seorang penari di klub malam, terjadi pada momen yang tidak tepat. Setidaknya bagi Yuddy. Keduanya hanyalah pemalingan atas keterusikan oleh rasa penasaran akan kehadiran sosok yang berasal dari kabar yang disampaikan oleh ibu – yang atas konsekuensi kabar itu hanyalah ibu – angkatnya (Rebecca Pan).

Suram dan Taram

Sejak awal film ini dimulai, Wong Kar-Wai berupaya menghadirkan atmosfer suram dan taram hampir di seluruh adegan. Sekalipun rayuan Yuddy ditonjolkan menggunakan dialog yang bermakna saat menggoda So Li Zhen, namun sejak saat itu pula kemuraman yang disebabkan rasa kosong si karakter utama hadir. Rayuan ‘teman semasa’ yang meruntuhkan rasa enggan, seakan sirna setelah kelanjutan tahap komitmen dipertanyakan. Begitu pula saat dekat dengan Mimi, cenderung dingin bahkan. Di sini, atmosfer tadi melebar dan menular, menunjukkan ketidaksampaian kisah kasih antarkarakter.

Di tengah kesenduan yang melanda So Li Zhen serta penyangkalan Mimi, keduanya justru memiliki pemuja baru dalam karakter Tide (Andy Lau) dan Zeb (Jacky Cheung). Tide, seorang polisi yang bercita-cita menjadi pelaut, secara setia menemani proses melepas sendu So Li Zhen dan perlahan menaruh rasa. Sementara Zeb, yang diwarisi mobil milik Yuddy sepeninggalnya menuju Filipina mengejar ibu kandungnya, berharap turut mewarisi rasa dari Mimi. Kedua skenario yang konvergen dengan suasana sekitar. Khusus untuk kisah antara So Li Zhen dan Tide, penyampaiannya dilafalkan dengan penggambaran yang mengena, tanpa menyentuh satu pun aksara.

Karakteristik muram ini didukung pula dengan mayoritas waktu pengambilan gambar di saat malam. Latar Hong Kong dekade 1960-an yang sesekali dilalulalangi trem di lintasan dan belum banyaknya lampu-lampu terang pun turut menyemarakkan kemuraman. Ini merupakan salah satu dari beberapa identitas khas (auteur) sang sutradara. Minimnya pencahayaan, sempitnya lokasi yang dipilih sehingga melahirkan pembingkaian dan penghalangan, serta penggunaan cermin yang mendukung alur penceritaan, serta konsistensinya dalam menampilkan atau mengacu kepada waktu seterusnya dipraktikkan di film-film selanjutnya.

 Benih-benih composite film baik antarkarakter dalam film maupun dengan referensi yang terkandung di lintas film-filmnya, diawali di film ini. Resep ini sendiri terus dilanjutkan oleh Wong Kar-Wai di film-film selanjutnya semacam Chungking Express dan Fallen Angels. Film ini sendiri merupakan tahap awal dari karangan tiga serangkai film-filmnya yang diteruskan di In the Mood for Love dan 2046. Atau yang disebut juga dengan trilogi Chow Mo-Wan, karakter yang dikisahkan secara parsial dipenghujung film oleh Tony Leung.

Rating: 3,5stars

Days of Being Wild (1990) | Sutradara: Wong Kar-Wai | Durasi: 95 Menit | Pemeran: Leslie Cheung, Maggie Cheung, Andy Lau, Carina Lau, Rebecca Pan, Jacky Cheung, Tony Leung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s