The Big Short: Memetik Manis di Kala Krisis

MV5BMTk4ODc4OTUwNl5BMl5BanBnXkFtZTgwNTU5NzM0NzE@._V1__SX1303_SY585_

It ain’t what you don’t know that gets you into trouble. It’s what you know for sure that just ain’t so. – Mark Twain

Kutipan di atas mengawali dan menjadi saripati dari film berdurasi 130 menit ini. Landaan krisis finansial yang berawal dari sektor hipotek di Amerika Serikat pada sekitaran 2007 lalu menjadi tema yang dibawa. Hanya saja, kali ini diwakili perspektif segelintir pelaku pasar finansial yang sedari awal memperoleh sinyalemen ataupun tirisan informasi akan kolapsnya pasar. Informasi yang dapat memberikan keuntungan besar bagi mereka yang memilikinya. Informasi yang sebagian besar kalangan yakini salah, karena bertentangan dengan kestabilan rekam jejaknya.

Sinyalemen tadi pertama kali didapatkan oleh Michael Burry (Christian Bale), manajer dana Scion Capital bergelagat eksentrik – yang ternyata berasal dari gejala autisme yang diidapnya. Keputusannya untuk melakukan – bahkan memelopori – tindakan short (bertaruh dengan keberpihakan pada kolapsnya sektor hipotek) sebesar – setidaknya – US$ 1,3 miliar,  ditertawakan namun disepakati oleh pihak perbankan. Meski dengan konsekuensi berupa tanggungan premi hingga sebesar US$ 90 juta per tahun.

Aksi yang kemudian hinggap di telinga Jared Vennett (Ryan Gosling), yang bekerja di salah satu lembaga keuangan tempat di mana Burry mengajukan short, Deutsche Bank. Keengganan koleganya untuk melakukan hal yang sama, memaksanya mesti mencari peluang dengan menawarkan ‘asuransi’ ke pihak lain untuk memperoleh komisi. Penawaran yang kemudian diambil oleh Mark Baum (Steve Carell). Ditambah karakter Ben Rickert (Brad Pitt), keempatnya seakan mewakili para pelaku pasar keuangan yang meskipun berkecimpung di dunia yang sama namun memiliki motif berbeda. Seorang pragmatis yang diwakili Burry, oportunis oleh Vennett, anti-sistem oleh Baum, hingga Rickert, eks pelaku yang apatis namun rela turun gunung demi membantu kedua rekannya, Charlie Geller (John Magaro) dan Jamie Shipley (Finn Wittrock). Biarpun berbeda motif, namun mereka bernasib sama. Mereka termasuk sekian orang yang menjadi kaya raya berkat situasi yang porak poranda.

Continue reading

Advertisements

Spotlight: Menyorot Sistem yang Rosot

vlcsnap-error712

Lebih pahit mana: kebenaran yang diungkap, atau fakta pekat tak kunjung tersingkap? Tentu lebih pahit apabila kebenaran yang diungkap itu adalah singkapan atas pekatnya fakta tadi. Apalagi jika fakta tersebut hanyalah bongkahan kecil di puncak gunung es yang eksistensinya ditutup-tutupi bak sebuah aib. Kecuali memang itu sebuah aib.

Diadaptasi dari kisah nyata, sekelompok jurnalis harian The Boston Globe yang tergabung dalam tim peliputan rubrik bernama Spotlight, mengambil opsi terpahit itu. Bos baru mereka, Marty Baron (Liev Schreiber), mengusulkan mereka untuk mengusut skandal terselubung yang melibatkan para padri dan institusi gereja di kota mereka. Usul yang sempat disangsikan oleh pimpinan tim, Walter ‘Robby’ Robinson (Michael Keaton), namun tetap dijalani bersama anggotanya: Mike Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James). Keempatnya sadar, hasil investigasi mereka kali ini akan mencengangkan bagi pembaca mereka yang lebih dari separuhnya berkeyakinan Katolik.

Continue reading