Mustang: Cerita Lima Dara Terpenjara

1448070252806.cached

Selayaknya seekor kuda Mustang yang liar berkeliar di sabana terhampar, seperti itulah rasanya bebas. Rasa yang benihnya mulai tertanam di masa-masa pubertas – saat raungannya mulai bercokol di benak, sekalipun menjadi dewasa belum dianggap pantas. Raungan kebebasan itulah yang menggema di langit-langit rumah di kolong langit selatan Laut Hitam, di kota Trabzon, Turki. Ketika lima dara bersaudari kadung tersandung skandal dangkal nan ayal.

Ajakan Sonay (İlayda Akdoğan), si sulung, kepada keempat adiknya: Selma (Tuğba Sunguroğlu), Ece (Elit İşcan), Nur (Doğa Doğuşlu), dan Lale (Güneş Şensoy). untuk merayakan libur sekolah dengan bermain ombak pantai, berujung sanksi. Permainan chicken fight yang dilakukan bersama para teman lelaki, dilaporkan salah satu tetangga ke sang nenek (Nihal Koldaş) dan paman mereka, Erol (Ayberk Pekcan) yang kolot. Laporan yang hiperbolis. Keduanya yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai konservatif, rupanya menelan bulat-bulat informasi tadi. Syahdan, mereka pun dikurung dalam rumah mereka sendiri.


Peram dan Lembam

Sepanjang durasi 97 menit, Mustang mengajak kita mengarungi kisah yang dialami lima remaja putri yang hidup dalam bui – secara leksikal maupun kiasan. Dinding bersekat yang jadi penjerat kini menjadi sahabat. Walakin, selayak remaja pada umumnya, jiwa berontak mulai bersemayam dan jadi bagian dari watak. Seperti saat si Nenek membentak, “My granddaughters masturbated in the neck of the boys”, yang lantas dibalas sarkasme Nur, “The chairs lean on our tails, isn’t it disgusting?”. Atau ketika Sonay mengendap-endap kabur untuk berjumpa dengan pacar rahasianya.

Sekalipun penataan sinematografi film pemenang Label Europa Cinemas pada Festival Film Cannes, yang seakan menjadikan kita salah satu tokoh di dalamnya, film ini berpusat pada perspektif Lale. Si bungsu yang kerap menjadikan tumbuh kembang keempat kakaknya sebagai guyonan. Bagaimana kelembaman yang ia dan kakak-kakaknya lakukan. Bagaimana ia menyaksikan langsung saat keempatnya – dan juga ia – berkembang seiring meningkatnya kadar kelekatan sebagai dampak dari pengurungan.

Deniz Ergüven, sang sutradara, mengajak kita mendalami isu-isu yang – sepertinya, dilihat dari benda-benda milik mereka yang disita, masih – dihadapi gadis muda yang hidup dalam lingkungan teguh tradisi. Peranan setelah menikah, misalnya, di mana para istri harus menjadi ‘pabrik yang tidak pernah keluar dari rumah’. Isu-isu seputar akil balig dan yang tabu pun tak alpa diangkat. Pandangan konservatif akan dijunjung tingginya manifestasi kegadisan sebelum – dan ‘bukti’ keberadaannya sesaat setelah – menikah, adalah satu di antaranya. Sebegitu pentingnya hingga perlu dilakukan pemeriksaan keberadaannya bagi tiga dara tertua. “If there were any doubt, you could never marry”, jawab si Nenek saat dipertanyakan Selma. Bahkan ancaman yang tak dinyana: perogolan.

Pemingitan, dengan segala pengimbasan berbeda menjadi isu terakhir. Puncak dari seluruh tautan isu di mana segala lembam perlahan sirna – kecuali bagi Lela. Sonay yang gembira, Selma yang dilanda gulana, hingga Ece yang mengalami pergolakan rasa. Pergolakan yang diketengahkan pemeran Ece, Elit İşcan, dengan sangat menawan dalam memutarbalikkan suasana dalam jentikan jari. Membangkitkan elan dalam diri Lela, bersama Nur, untuk bersegera dan menyemai lebih dini yang tertanam: kebebasan.

vlcsnap-error000

Rating: 4stars

Mustang (2015) | Sutradara: Deniz Gamze Ergüven | Durasi: 97 Menit | Pemeran: Günes Sensoy, Elit İşcan, İlayda Akdoğan, Doga Zeynep Doguslu, Tuğba Sunguroğlu, Ayberk Pekcan, Nihal Koldaş.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s