The Lobster: Kala Cinta Direkayasa

vlcsnap-error479

The relationship can’t be built from a lie”.  Segala hubungan – sekalipun tidak dilandasi cinta, tentu tabu untuk dibumbui dengan dusta. Apalagi dalam menjalin hubungan asmara.

David (Colin Farell), yang belum lama ini ditinggal istrinya, harus menghadapi konsekuensi hidup melajang. Berkat tinggal di The City, kota dengan supremasi statuta yang – lucunya – turut meregulasi hubungan asmara penduduknya. Aturan itu adalah pelarangan kelajangan. Mereka yang kebetulan sedang, atau memang dirundung peruntungan, wajib dipusatkan dalam Hotel. Istilahnya asrama asmara. David pun tidak luput dikirim ke sana.

Mereka yang tinggal di Hotel diberikan jangka waktu terbatas: 45 hari untuk mencari cinta. Tentunya jatah menginap di sana bukan tanpa aktivitas. Mulai dari lokakarya hidup berpasangan yang mencuci otak para penghuni, kegiatan bebas di sekitar kawasan Hotel, stimulasi pagi hari, hingga berburu ke hutan. Perburuan yang berinsentif penambahan masa tinggal yang hitungannya per hari per tangkapan. Dalam – sedikitnya – 45 hari, penghuni mesti mendapatkan pasangan yang memiliki kesamaan karakteristik utama. Apabila tidak, transformasi menjadi hewan konsekuensinya.

Cinta Rasa Nestapa

Berlatar nuansa dystopia, The Lobster terasa sama dengan film-film bernuansa serupa, terutama dalam segi faksi. Ada dua faksi utama dalam film ini: mereka yang berpasang-pasangan yang tinggal di kota, dan mereka yang menyendiri yang tinggal di hutan. Pasutri versus penyendiri. Bak musuh, keduanya kerap melakukan konfrontasi. Bahkan pembiasaan diri yang diatur masing-masing sering bertentangan. Bipolarisasi.

Keduanya bagaikan dua sisi mata uang, berdekatan namun berlawanan. Bila pihak pemerintah Kota melarang segala bentuk kelajangan, sebaliknya bagi para penyendiri, segala aktivitas berpasang-pasangan ditentang. Pemerintahan Kota yang cenderung represif digambarkan dalam pengecekan certificate of partnership bagi para penduduk yang berseliweran tanpa menggandeng pasangan. Di Hotel pun, mereka yang tertangkap tangan melakukan pelanggaran, dihukum tanpa ampun. Demikian halnya para penyendiri, sang pemimpin kelompok (Léa Seydoux) yang dingin dan kaku tak kenal kata maklum dalam menegakkan payung hukum. Ketahuan berciuman, misalnya, hukumannya disebut dengan red kiss. Para pelaku mesti mengulangi perbuatannya dengan kondisi bibir pasca disilet. Bayangkan bagaimana hukuman bernama red intercourse dieksekusi.

Gaya bertutur narasi dari sudut pandang pertama serba tahu, membuat kita menduga-duga siapa gerangan wanita yang menceritakan riwayat David secara runtut dan terperinci. Sebuah keintiman yang tersirat. Diiringi sayup-sayup alunan melodi Adagio Affetuouso ed Appassionato, ada kesan mencekam yang turut menggiring. Seakan dibalik kedekatan ada jarak yang renggang. Kedekatan yang renggang itu yang menjembatani hubungan antara David dengan Wanita Rabun Jauh (Rachel Weisz), salah satu dari penyendiri. Hingga pilihan satu-satunya bagi David untuk membut keduanya kian dekat, adalah justru menambahkan sekat.

Rating:  4stars

The Lobster (2015)Sutradara: Yorgos Lanthimos | Durasi: 118 Menit | Pemeran: Colin Farell, Rachel Weisz, Léa Seydoux, John C. Reilly, Ben Wishaw

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s